Taksu

Desa Kala Patra: Ruang yang Selalu Berada dalam Konteks

Desa Kala Patra: Ruang yang Selalu Berada dalam Konteks

Memahami Desa Kala Patra sebagai cara pandang terhadap ruang berdasarkan tempat, waktu, dan keadaan. Artikel ini mengajak membaca kembali kearifan lokal Bali dalam arsitektur dan penataan ruang secara kontekstual, tanpa melepaskan nilai budaya, keberlanjutan lingkungan, serta kepastian hukum.

Tri Angga: Tubuh, Bangunan, dan Keselarasan Ruang

Tri Angga: Tubuh, Bangunan, dan Keselarasan Ruang

Memahami Tri Angga sebagai cara membaca tubuh bangunan melalui hubungan Utama, Madya, dan Nista, seperti kepala, badan, dan kaki. Literasi ini mengajak melihat bangunan bukan sekadar bentuk fisik, tetapi sebagai kesatuan yang menghubungkan manusia, ruang, tanah, lingkungan, budaya, proporsi, dan kehidupan.

Lebuh: Ruang Peralihan antara Dalam dan Luar

Lebuh: Ruang Peralihan antara Dalam dan Luar

Memahami Lebuh sebagai ruang peralihan yang menghubungkan rumah, pekarangan, jalan, manusia, dan lingkungan dalam arsitektur Bali. Literasi ini mengajak melihat Lebuh bukan sekadar halaman depan, tetapi sebagai ruang ambang, ruang sosial, ruang budaya, dan bagian penting dari hubungan antara ruang privat dan publik.

Tri Hita Karana: Menata Hubungan, Bukan Sekadar Menata Ruang

Tri Hita Karana: Menata Hubungan, Bukan Sekadar Menata Ruang

Menggali Tri Hita Karana sebagai cara pandang tentang hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam lingkungan dalam memahami ruang kehidupan Bali. Literasi ini mengajak melihat bahwa penataan ruang bukan hanya tentang membagi ruang, menentukan fungsi kawasan, atau mengatur bangunan, tetapi juga tentang menjaga hubungan yang memungkinkan kehidupan berlangsung secara harmonis, berkelanjut

Bhuwana Agung, Bhuwana Alit, Gumi Bali: Memahami Ruang sebagai Kehidupan

Bhuwana Agung, Bhuwana Alit, Gumi Bali: Memahami Ruang sebagai Kehidupan

Menggali hubungan Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit, serta makna Gumi Bali dan Jagat Bali sebagai ruang kehidupan. Literasi ini mengajak memahami penataan ruang dan arsitektur Bali bukan semata sebagai pengaturan fisik, tetapi sebagai bagian dari hubungan manusia, alam, budaya, spiritualitas, dan kehidupan antargenerasi.