Taksu dan Jati Diri Bali: Memahami Jiwa di Balik Ruang, Arsitektur, dan Kehidupan
Taksu dan Jati Diri Bali: Memahami Jiwa di Balik Ruang, Arsitektur, dan Kehidupan
Serial Filosofi Ruang Bali — 03
Pendahuluan: Apa yang Membuat Sesuatu Terasa “Bali”?
Kita dapat melihat sebuah bangunan dengan atap bertingkat, ukiran, ornamen, gerbang, tembok penyengker, atau berbagai bentuk arsitektur yang secara visual mengingatkan kita kepada Bali.
Namun kemudian muncul sebuah pertanyaan yang lebih dalam:
Apakah sesuatu otomatis menjadi Bali hanya karena bentuknya menyerupai bentuk Bali?
Pertanyaan ini penting.
Sebab Bali sedang berubah.
Arsitektur berkembang.
Kota berkembang.
Teknologi berkembang.
Cara bekerja dan cara hidup masyarakat juga berubah.
Jika jati diri Bali hanya diletakkan pada bentuk masa lalu, maka perubahan akan selalu dianggap sebagai ancaman.
Sebaliknya, jika jati diri dipahami sebagai nilai, pengetahuan, hubungan dan cara memaknai kehidupan, maka Bali dapat berkembang tanpa harus kehilangan hubungan dengan akar budayanya.
Di sinilah kita dapat mulai memahami dua kata penting:
Taksu dan Jati Diri Bali.
1. Taksu: Sebuah Kata yang Tidak Sederhana
Taksu merupakan salah satu konsep yang memiliki tempat penting dalam kebudayaan Bali, terutama dalam kehidupan seni dan praktik kebudayaan.
Nilotama (2006) menjelaskan Taksu sebagai suatu konsep mengenai pencapaian kualitas yang memungkinkan suatu karya memiliki mutu dan makna tertentu. Dalam kajiannya, Taksu berkaitan dengan upaya mengekspresikan nilai dan keindahan serta menjaga keharmonisan hubungan antara Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit.
Sementara itu, Wirawan (2018), melalui kajiannya mengenai dramatari Calonarang, menunjukkan Taksu dalam hubungan dengan kekuatan, daya spiritual dan kualitas yang memberi daya hidup pada seni pertunjukan dalam konteks Hindu Bali.
Dari sini terlihat bahwa Taksu tidak mudah diterjemahkan hanya dengan satu kata.
Ia dapat berhubungan dengan:
- kualitas;
- daya;
- kekuatan;
- keindahan;
- penghayatan;
- makna;
- spiritualitas;
- dan kemampuan suatu karya atau kehidupan untuk menghadirkan daya tertentu.
Karena itu, Taksu bukan sekadar sesuatu yang terlihat.
Ia juga berkaitan dengan sesuatu yang dirasakan, dihayati dan dihidupi.
2. Taksu Bukan Ornamen
Dalam pembicaraan mengenai Bali, terdapat risiko ketika Taksu dipahami terlalu sederhana.
Misalnya:
ukiran = Bali
ornamen = Bali
atap tradisional = Bali
warna tertentu = Bali
Padahal bentuk hanyalah salah satu lapisan.
Sebuah bangunan dapat memiliki banyak ornamen Bali, tetapi belum tentu memiliki hubungan yang kuat dengan tempat, lingkungan, masyarakat dan kehidupan Bali.
Sebaliknya, sebuah bangunan kontemporer dapat menggunakan teknologi modern dan bentuk yang sederhana, tetapi tetap dapat memiliki hubungan dengan konteks Bali apabila nilai, ruang, lingkungan dan kehidupannya dipertimbangkan dengan baik.
Karena itu:
Taksu tidak seharusnya dicari hanya pada apa yang terlihat, tetapi juga pada kualitas hubungan yang melahirkan apa yang terlihat.
3. Jati Diri Bali: Bentuk atau Nilai?
Jati diri sering kali dipahami sebagai identitas.
Namun identitas tidak selalu sama dengan bentuk.
Sebuah rumah dapat berubah bentuk karena kebutuhan keluarga berubah.
Sebuah desa dapat berubah karena perkembangan ekonomi.
Sebuah kota dapat berubah karena pertumbuhan penduduk.
Arsitektur dapat berubah karena teknologi dan kebutuhan fungsi.
Tetapi di balik perubahan tersebut dapat tetap terdapat nilai yang dipertahankan.
Misalnya:
- penghormatan terhadap tempat;
- hubungan manusia dengan alam;
- penghormatan terhadap ruang suci;
- kehidupan komunal;
- keseimbangan;
- keharmonisan;
- tanggung jawab sosial;
- dan penghargaan terhadap lingkungan.
Dengan demikian:
Jati diri bukan berarti mempertahankan semua bentuk masa lalu, melainkan menjaga hubungan dengan nilai yang membuat kehidupan memiliki arah dan makna.
4. Dari Bentuk → Nilai → Kehidupan
Untuk memahami hal tersebut, kita dapat membalik cara berpikir kita.
Jangan hanya melihat:
Bentuk → disebut Bali.
Tetapi mencoba membaca:
Nilai → Prinsip → Ruang → Praktik → Bentuk.
Misalnya, suatu bentuk ruang tradisional tidak muncul begitu saja.
Ia lahir dari cara masyarakat memahami:
- tempat;
- orientasi;
- hubungan manusia;
- alam;
- kehidupan sosial;
- spiritualitas;
- iklim;
- dan kebutuhan kehidupan.
Maka ketika kita ingin mengembangkan bentuk baru, pertanyaannya bukan:
“Bagaimana membuat bangunan baru terlihat seperti bangunan Bali?”
Melainkan:
“Nilai apa dari cara hidup Bali yang dapat diterjemahkan ke dalam bangunan dan ruang masa kini?”
Pertanyaan kedua jauh lebih membuka kemungkinan kreativitas.
5. Taksu dan Bhuwana Agung–Bhuwana Alit
Pada dua artikel sebelumnya kita telah berbicara mengenai Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit.
Kini hubungan tersebut menjadi semakin jelas.
Manusia adalah bagian dari alam.
Bangunan berada di lingkungan.
Lingkungan berada di dalam wilayah.
Dan seluruhnya berada dalam Gumi Bali.
Maka kualitas kehidupan manusia tidak dapat sepenuhnya dipisahkan dari kualitas ruang tempat ia hidup.
Dalam kajian Nilotama (2006), Taksu juga dikaitkan dengan upaya menjaga harmoni dan kesatuan antara Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit.
Secara konseptual, hal ini dapat kita baca sebagai sebuah pengingat:
Kualitas manusia dan kualitas lingkungan kehidupannya saling berhubungan.
6. Taksu dan Tempat
Kita telah membahas bahwa ruang dapat menjadi tempat ketika manusia memberikan pengalaman, hubungan, ingatan dan makna kepadanya.
Di sinilah Taksu dapat kita renungkan lebih jauh.
Apakah suatu tempat memiliki:
identitas?
makna?
hubungan dengan masyarakat?
hubungan dengan alam?
kehidupan sosial?
kesinambungan sejarah?
kualitas lingkungan?
Jika jawabannya semakin kuat, maka tempat tersebut tidak hanya memiliki fungsi, tetapi juga memiliki karakter.
Dalam konteks ini, istilah “Taksu ruang” dapat digunakan sebagai sebuah rumusan konseptual kontemporer untuk membantu membaca kualitas suatu tempat.
Namun perlu ditegaskan:
“Taksu ruang” bukan istilah teknis atau definisi hukum dalam peraturan penataan ruang.
Ia merupakan konsep interpretatif yang kita gunakan untuk membuka dialog antara pengetahuan budaya Bali dengan pemikiran mengenai ruang dan arsitektur.
7. Taksu Tidak Harus Berarti Sakral
Ini juga penting.
Taksu sering kali dikaitkan dengan kekuatan spiritual dan kehidupan seni.
Namun dalam konteks literasi ruang, kita perlu berhati-hati agar Taksu tidak disamakan begitu saja dengan kesakralan.
Sebuah tempat dapat memiliki nilai spiritual.
Tetapi kualitas sebuah ruang juga dapat muncul melalui:
- kehidupan masyarakat;
- hubungan sosial;
- kualitas lingkungan;
- kreativitas;
- keindahan;
- keteraturan;
- kenyamanan;
- keterhubungan;
- dan makna budaya.
Dengan demikian, pembahasan Taksu ruang tidak dimaksudkan untuk memberikan label sakral kepada semua ruang.
Ia lebih merupakan upaya untuk memahami:
apa yang membuat sebuah ruang memiliki daya hidup dan makna bagi manusia yang menghidupinya.
8. Jati Diri Bali dan Tri Hita Karana
Jati diri Bali juga tidak dapat dipisahkan dari cara masyarakat memahami hubungan kehidupan.
Tri Hita Karana memberikan salah satu kerangka penting:
Parhyangan
Hubungan manusia dengan Hyang Widhi.
Dalam ruang, dimensi ini berkaitan dengan tempat suci, ruang spiritual, orientasi dan penghormatan terhadap kehidupan keagamaan.
Pawongan
Hubungan manusia dengan manusia.
Dalam ruang, dimensi ini dapat hadir melalui desa, banjar, ruang komunal, ruang publik, fasilitas pelayanan dan berbagai tempat berlangsungnya kehidupan bersama.
Palemahan
Hubungan manusia dengan alam.
Dalam ruang, dimensi ini berkaitan dengan air, tanah, pertanian, hutan, pesisir, ekosistem dan keberlanjutan lingkungan.
Kajian Wiryawan dan Ernawati (2024) secara khusus membahas hubungan Tri Hita Karana dengan penataan ruang Bali dan konservasi lingkungan.
Dengan demikian:
Jati diri Bali dapat dibaca bukan hanya melalui apa yang dibangun, tetapi melalui bagaimana hubungan kehidupan dibangun dan dipelihara.
9. Jati Diri Bali dan Arsitektur
Dalam arsitektur, persoalan ini menjadi sangat nyata.
Arsitektur Bali tradisional memiliki berbagai konsep ruang seperti:
- Tri Mandala;
- Sanga Mandala;
- Natah;
- Lebuh;
- Hulu–Teben;
- Tri Angga;
- serta berbagai bentuk dan aturan tradisional lainnya.
Konsep-konsep tersebut menunjukkan bahwa bentuk arsitektur tidak berdiri sendiri.
Ia terkait dengan cara masyarakat memahami ruang.
Kajian mengenai perencanaan kota kontemporer di Denpasar juga menunjukkan bahwa konsep budaya dan arsitektur tradisional Bali masih relevan untuk dibicarakan dalam konteks perencanaan kota masa kini. Penelitian tersebut menemukan bahwa sejumlah prinsip lokal telah hadir dalam dokumen tata ruang, sementara beberapa konsep lainnya masih memiliki ruang untuk pengembangan lebih lanjut.
Hal ini memberikan satu pelajaran:
Warisan arsitektur Bali dapat menjadi sumber inspirasi dan pengetahuan bagi masa depan, bukan hanya benda yang harus disalin.
10. Arsitektur Kontemporer Apakah Masih Bisa “Bali”?
Pertanyaan ini sering muncul.
Jawabannya tidak harus dicari melalui bentuk semata.
Sebuah bangunan kontemporer dapat menggunakan:
- beton;
- baja;
- kaca;
- teknologi digital;
- sistem energi modern;
- material baru;
- struktur modern;
dan tetap memiliki hubungan dengan konteks Bali.
Yang perlu ditanyakan adalah:
Bagaimana bangunan itu menempatkan diri terhadap lingkungan?
Bagaimana hubungan ruangnya dengan manusia?
Bagaimana ia merespons iklim?
Bagaimana ia menghormati konteks budaya?
Bagaimana ia berhubungan dengan tempat?
Bagaimana ia membangun identitas tanpa menjadi sekadar imitasi?
Penelitian Barliana et al. (2025) juga menempatkan budaya lokal dan arsitektur tradisional sebagai sumber inspirasi dan pertimbangan dalam pengembangan tata ruang kota kontemporer Denpasar.
Dengan demikian, Bali tidak harus memilih antara tradisional atau modern.
Yang perlu dibangun adalah hubungan antara akar dan perkembangan.
11. Taksu dan Kreativitas
Jati diri tidak seharusnya menjadi alasan untuk mematikan kreativitas.
Justru sebaliknya.
Jika kita memahami nilai di balik bentuk, maka ruang kreativitas menjadi lebih luas.
Kita dapat bertanya:
Bagaimana prinsip keharmonisan diterjemahkan dalam teknologi baru?
Bagaimana hubungan manusia dengan alam diterjemahkan dalam bangunan hemat energi?
Bagaimana ruang komunal Bali diterjemahkan dalam ruang publik perkotaan?
Bagaimana konsep natah diterjemahkan secara kontekstual dalam arsitektur kontemporer?
Bagaimana orientasi dan hubungan dengan lingkungan diterapkan pada bangunan masa kini?
Dengan cara tersebut, budaya bukan menjadi batas kreativitas.
Budaya menjadi sumber kreativitas.
12. Dari Taksu menuju Jati Diri
Jika kita susun secara sederhana:
Taksu
↓
kualitas dan daya hidup
↓
Nilai
↓
cara memandang kehidupan
↓
Prinsip
↓
cara menempatkan manusia dan alam
↓
Ruang
↓
tempat kehidupan berlangsung
↓
Arsitektur
↓
wujud lingkungan binaan
↓
Jati Diri
↓
karakter yang terbentuk dari hubungan nilai, tempat dan kehidupan.
Dengan demikian, jati diri tidak muncul karena kita sengaja menambahkan ornamen.
Ia tumbuh dari konsistensi hubungan antara nilai, ruang dan kehidupan.
13. Taksu dan Tata Ruang Bali
Jika gagasan ini kita bawa ke tingkat wilayah, maka pertanyaannya menjadi lebih besar.
Apakah tata ruang Bali memiliki:
identitas?
karakter tempat?
hubungan dengan bentang alam?
hubungan dengan budaya masyarakat?
keberlanjutan ekologis?
ruang bagi kehidupan sosial?
ruang bagi spiritualitas?
Di sini kita mulai melihat bahwa Taksu tidak harus diterjemahkan menjadi satu pasal baru dalam RTRW.
Taksu lebih tepat ditempatkan sebagai nilai reflektif yang membantu kita menguji kualitas hasil penataan ruang.
Misalnya:
Apakah perkembangan kawasan masih memperkuat karakter tempat?
Apakah pertumbuhan kota tetap memiliki hubungan dengan bentang alam?
Apakah pembangunan memperkuat atau justru memutus hubungan masyarakat dengan ruang kehidupannya?
Apakah ruang yang dibangun masih memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk hidup, berinteraksi dan membangun kebudayaan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat memperkaya cara kita membaca keberhasilan penataan ruang.
14. Jati Diri Bukan Masa Lalu
Ada kekeliruan yang perlu kita hindari.
Jati diri sering dianggap berarti:
kembali ke masa lalu.
Padahal jati diri dapat berarti:
mengetahui dari mana kita berasal agar kita dapat menentukan bagaimana kita melangkah ke depan.
Bali bukan museum.
Bali adalah masyarakat yang hidup.
Karena itu, budaya Bali juga harus mampu berdialog dengan:
- perubahan iklim;
- teknologi;
- urbanisasi;
- ekonomi;
- perubahan demografi;
- mobilitas;
- digitalisasi;
- kebutuhan perumahan;
- kebutuhan infrastruktur;
- serta perkembangan kota.
Jati diri yang hidup bukan jati diri yang membeku.
15. Dari “Bentuk Bali” menuju “Jiwa Bali”
Mungkin inilah pergeseran cara berpikir yang perlu kita bangun.
Bukan hanya:
Bagaimana membuat bentuk yang terlihat Bali?
Tetapi:
Bagaimana menghadirkan nilai Bali dalam cara kita memperlakukan ruang?
Bukan hanya:
Bagaimana membuat bangunan dengan ornamen Bali?
Tetapi:
Bagaimana membuat bangunan yang memiliki hubungan dengan manusia, alam dan tempatnya?
Bukan hanya:
Bagaimana mempertahankan citra Bali?
Tetapi:
Bagaimana mempertahankan kualitas kehidupan Bali?
Di sinilah pembahasan Taksu dan Jati Diri menjadi relevan.
16. Sebuah Kerangka Awal: Taksu Ruang Bali
Dari seluruh pembahasan kita, untuk kebutuhan literasi kita dapat menyusun lima dimensi konseptual Taksu Ruang Bali:
1. Identitas
Apakah tempat tersebut memiliki karakter yang dapat dikenali?
2. Makna
Apakah ruang tersebut memiliki hubungan dengan sejarah, budaya dan kehidupan masyarakat?
3. Harmoni
Apakah terdapat hubungan yang baik antara manusia, masyarakat, alam dan dimensi spiritual?
4. Keberlanjutan
Apakah ruang mampu mendukung kehidupan bukan hanya sekarang, tetapi juga masa depan?
5. Kehidupan
Apakah ruang tersebut benar-benar hidup dan memberi manfaat bagi masyarakat?
Kelima dimensi tersebut belum merupakan standar teknis.
Ia adalah kerangka reflektif yang dapat kita uji dan kembangkan melalui kajian berikutnya.
17. Menuju Penataan Ruang yang Berjati Diri
Jika kelak konsep ini diterjemahkan ke dalam penyelenggaraan penataan ruang, maka nilai budaya tidak cukup hanya dicantumkan dalam bagian konsiderans atau visi.
Nilai perlu diterjemahkan menjadi:
prinsip → indikator → informasi → rencana → pemanfaatan → pengendalian → evaluasi.
Dengan demikian, nilai tidak berhenti sebagai slogan.
Ia dapat menjadi bagian dari proses penyelenggaraan ruang.
Di sinilah pengetahuan lokal, data geospasial, kajian akademik, partisipasi masyarakat dan regulasi dapat bertemu.
18. Pesan untuk Krama Semeton Bali
Mungkin pesan paling sederhana dari pembahasan ini adalah:
Jangan hanya bertanya apakah bangunan kita terlihat Bali. Tanyakan apakah cara kita membangun masih menghormati Bali.
Jangan hanya bertanya:
“Apakah bentuknya tradisional?”
Tetapi juga:
“Apakah cara kita menempatkannya menghormati tempat?”
Jangan hanya bertanya:
“Apakah kawasan ini berkembang?”
Tetapi juga:
“Kehidupan apa yang tumbuh bersama perkembangan tersebut?”
Dan jangan hanya bertanya:
“Apa yang dapat kita bangun di Gumi Bali?”
Tetapi juga:
“Apa yang harus kita jaga agar Gumi Bali tetap menjadi ruang kehidupan?”
Penutup: Merawat Jiwa, Bukan Membekukan Bentuk
Taksu mengajarkan kepada kita tentang kualitas.
Jati diri mengingatkan kita tentang akar.
Bhuwana Agung mengingatkan kita tentang alam.
Bhuwana Alit mengingatkan kita tentang manusia.
Gumi Bali mengingatkan kita tentang ruang kehidupan.
Dan tata ruang mengingatkan kita bahwa setiap keputusan mengenai tempat akan memengaruhi kehidupan.
Karena itu, menjaga jati diri Bali bukan berarti menghentikan perubahan.
Menjaga jati diri berarti memastikan bahwa perubahan tetap memiliki hubungan dengan nilai, tempat, alam dan kehidupan.
Bali boleh modern.
Bali boleh berkembang.
Bali boleh menciptakan arsitektur baru.
Bali boleh menggunakan teknologi baru.
Namun semoga dalam setiap perkembangan tersebut tetap ada ruang bagi:
nilai,
keharmonisan,
ingatan,
identitas,
alam,
manusia,
dan kehidupan.
Mungkin itulah salah satu cara kita memahami Taksu:
bukan sekadar sesuatu yang tampak indah, tetapi kualitas yang membuat kehidupan tetap memiliki jiwa.
Dan mungkin itulah pula makna jati diri:
bukan sekadar bagaimana Bali terlihat, tetapi bagaimana Bali tetap hidup sebagai Bali.
Om Śāntiḥ Śāntiḥ Śāntiḥ Om.
Catatan Literasi
Tulisan ini merupakan bagian ketiga dari Serial “Filosofi Ruang Bali”. Pembahasan Taksu dalam artikel ini bersandar pada kajian kebudayaan dan estetika Bali, kemudian dikembangkan sebagai bahan refleksi terhadap ruang dan arsitektur.
Istilah “Taksu Ruang Bali” yang digunakan dalam artikel ini merupakan rumusan konseptual untuk kepentingan literasi, bukan istilah teknis atau definisi hukum dalam penyelenggaraan penataan ruang.
Pemaknaan Taksu dalam kehidupan keagamaan, seni, budaya, arsitektur dan ruang dapat memiliki konteks yang berbeda. Karena itu, pembahasan ini tidak dimaksudkan untuk menetapkan satu tafsir tunggal, melainkan membuka ruang pengkajian lebih lanjut antara sumber tradisi, kajian akademik, pengetahuan masyarakat, dan kebutuhan pembangunan Bali masa kini.
Rujukan
Barliana, M. S., Ilhamdaniah, Adhi, N., Mardiana, R., & Dwidayati, K. H. (2025). Contemporary urban design in Denpasar based on Balinese local culture and architecture. City and Built Environment, 3 , 2. https://doi.org/10.1007/s44213-025-00043-w
Nilotama, S. K. L. (2006). Taksu dalam kebudayaan Bali. Dimensi Seni Rupa dan Desain, 4 (1), 17. https://doi.org/10.25105/dim.v4i1.1309
Pemerintah Provinsi Bali. (2023). Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 2 Tahun 2023 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Bali Tahun 2023–2043 .
Wirawan, K. I. (2018). Taksu dalam dramatari Calonarang: Sebuah kajian estetika Hindu. Widyadari, 19 (1), 40–45.
Wiryawan, I. W., & Ernawati, N. (2024). Tri Hita Karana in the spatial planning of Bali Province in national and regional regulations as an environmental conservation effort. International Journal of Environmental Impacts, 7 (1), 31–40. https://doi.org/10.18280/ijei.070104