Sanga Mandala: Sembilan Ruang, Satu Kesatuan Kehidupan
Sanga Mandala: Sembilan Ruang, Satu Kesatuan Kehidupan
Ketika Arah, Hierarki, dan Kehidupan Bertemu dalam Organisasi Ruang
Pada artikel sebelumnya kita telah membaca Kaja–Kelod sebagai orientasi gunung–laut dan Kangin–Kauh sebagai orientasi matahari terbit–matahari terbenam.
Keduanya memperlihatkan bahwa ruang dalam kehidupan Bali tidak berdiri sendiri.
Ruang memiliki arah.
Arah memiliki makna.
Dan makna berhubungan dengan kehidupan.
Lalu muncul pertanyaan berikutnya:
Ketika berbagai arah dan nilai tersebut bertemu, bagaimana ruang diorganisasikan?
Salah satu jawabannya dapat ditemukan dalam konsep Sanga Mandala.
Secara sederhana, Sanga Mandala dapat dipahami sebagai susunan ruang dalam sembilan bagian. Dalam kajian arsitektur dan permukiman Bali, konsep ini digunakan untuk membaca organisasi ruang pada berbagai skala, termasuk tapak bangunan dan permukiman. Literatur juga menunjukkan bahwa Sanga Mandala berkaitan dengan pertemuan orientasi Kaja–Kelod dan Kangin–Kauh serta pengembangan hierarki ruang yang lebih kompleks
Namun, Sanga Mandala bukan sekadar membagi sebuah bidang menjadi sembilan kotak.
Ia adalah cara untuk memahami hubungan antara arah, nilai, fungsi, hierarki, dan kehidupan.
1. Dari Tiga Mandala Menjadi Sembilan Mandala
Dalam artikel sebelumnya, kita telah membahas Tri Mandala.
Tri Mandala memberikan cara membaca ruang melalui tiga tingkat:
Utama – Madya – Nista.
Ketiganya bukan semata-mata ukuran fisik.
Tri Mandala merupakan cara memahami perbedaan tingkat, nilai, fungsi, dan hubungan ruang.
Sanga Mandala kemudian mengembangkan pembacaan tersebut menjadi susunan yang lebih kompleks.
Secara sederhana:
Tri Mandala
→ tiga tingkat ruang
Sanga Mandala
→ sembilan bagian ruang
Kajian tentang permukiman tradisional Bali menunjukkan bahwa Tri Mandala dan Sanga Mandala dapat dibaca sebagai bagian dari sistem yang lebih luas dalam mengorganisasikan ruang, baik pada skala rumah maupun permukiman.
Tetapi penting untuk tidak memahaminya sebagai proses matematis sederhana:
3 × 3 bukan sekadar penambahan jumlah ruang.
Yang berubah adalah tingkat kompleksitas hubungan.
2. Dua Sumbu yang Bertemu
Bayangkan kembali dua artikel sebelumnya.
Yang pertama adalah:
Kaja ↔ Kelod
Gunung ↔ Laut.
Yang kedua:
Kangin ↔ Kauh
Matahari terbit ↔ Matahari terbenam.
Ketika kedua sumbu tersebut bertemu, ruang tidak lagi hanya memiliki satu arah.
Ia memiliki jaringan orientasi.
Di antara kedua sumbu tersebut terdapat berbagai kemungkinan posisi.
Dari sinilah Sanga Mandala dapat dibaca sebagai sebuah organisasi ruang yang memiliki sembilan bagian.
Dengan demikian, Sanga Mandala bukan konsep yang muncul terpisah dari pembahasan sebelumnya.
Ia merupakan kelanjutan logis dari perjalanan membaca ruang:
Gunung–Laut
↓
Matahari Terbit–Terbenam
↓
Orientasi
↓
Hierarki
↓
Organisasi Ruang
Kajian mengenai Sanga Mandala dalam arsitektur tradisional Bali juga menjelaskan pertemuan dua sumbu tersebut sebagai salah satu dasar terbentuknya pola sembilan bagian.
3. Sembilan Bukan Sekadar Angka
Kata “Sanga” berarti sembilan.
Namun angka sembilan dalam konteks ini tidak seharusnya dibaca hanya sebagai jumlah petak.
Sembilan menunjukkan adanya keragaman posisi dalam satu kesatuan.
Ada bagian yang berada pada tingkat utama.
Ada bagian madya.
Ada bagian nista.
Di dalam masing-masing tingkat tersebut terdapat variasi posisi berdasarkan orientasi.
Dengan demikian, sebuah ruang dapat dibaca bukan hanya melalui pertanyaan:
“Apa fungsinya?”
tetapi juga:
“Di mana posisinya?”
“Ke arah mana ia berorientasi?”
“Apa hubungannya dengan ruang lain?”
“Apa nilai yang melekat pada posisinya?”
“Bagaimana manusia menggunakan dan mengalami ruang tersebut?”
Di sinilah Sanga Mandala menjadi lebih dari sekadar pola geometris.
Ia menjadi bahasa organisasi ruang.
4. Utama, Madya, dan Nista dalam Struktur yang Lebih Kompleks
Jika Tri Mandala memberikan tiga tingkat utama, maka Sanga Mandala memperlihatkan bahwa setiap tingkat dapat memiliki variasi posisi.
Secara konseptual dapat dibaca sebagai:
Utama
→ Utamaning Utama
→ Utamaning Madya
→ Utamaning Nista
Madya
→ Madyaning Utama
→ Madyaning Madya
→ Madyaning Nista
Nista
→ Nistaning Utama
→ Nistaning Madya
→ Nistaning Nista
Istilah-istilah tersebut menunjukkan bahwa ruang tidak hanya dibaca secara hitam-putih antara “suci” dan “tidak suci”.
Ada gradasi.
Ada transisi.
Ada perbedaan tingkat kepentingan.
Dan ada hubungan antarbagian.
Karena itu, organisasi ruang menjadi lebih halus daripada sekadar pembagian tiga zona.
5. Ruang Tidak Berdiri Sendiri
Salah satu pelajaran penting dari Sanga Mandala adalah bahwa sebuah ruang memperoleh makna melalui hubungannya dengan ruang lain.
Sebuah ruang tengah memiliki makna karena ada ruang di sekelilingnya.
Sebuah ruang utama memperoleh makna karena terdapat ruang madya dan nista.
Ruang masuk memperoleh makna karena ada ruang dalam.
Ruang publik memperoleh makna karena terdapat ruang yang lebih privat.
Dengan demikian:
Nilai ruang tidak selalu berada di dalam ruang itu sendiri, tetapi juga dalam hubungan ruang tersebut dengan ruang lainnya.
Gagasan ini sangat penting untuk memahami tata ruang.
Sebuah taman bukan hanya taman.
Ia berhubungan dengan jalan, bangunan, drainase, ruang publik, aktivitas masyarakat, dan lingkungan di sekitarnya.
Sebuah kawasan permukiman bukan hanya kumpulan rumah.
Ia berhubungan dengan jalan, air, fasilitas umum, ruang terbuka, tempat ibadah, tempat kerja, dan lingkungan ekologis.
Ruang selalu berada dalam jaringan hubungan.
6. Sanga Mandala pada Skala Rumah
Dalam arsitektur tradisional Bali, konsep Sanga Mandala dapat ditemukan pada organisasi ruang hunian.
Ruang-ruang tidak ditempatkan secara acak.
Penempatan berbagai elemen mempertimbangkan orientasi, fungsi, hubungan antarbangunan, serta nilai ruang.
Kajian tentang rumah dan permukiman tradisional Bali menunjukkan bahwa Sanga Mandala berperan dalam membentuk pola ruang baik pada skala rumah maupun permukiman.
Di dalam satu pekarangan, misalnya, terdapat berbagai bangunan dan ruang dengan fungsi yang berbeda.
Ada ruang untuk aktivitas keluarga.
Ada ruang untuk kegiatan tertentu.
Ada ruang terbuka.
Ada ruang yang memiliki fungsi ritual.
Ada ruang transisi.
Keseluruhannya membentuk satu sistem.
Karena itu, rumah tradisional Bali lebih tepat dipahami sebagai komposisi kehidupan, bukan sekadar kumpulan bangunan.
7. Natah: Ruang yang Menghubungkan
Di antara berbagai elemen tersebut terdapat gagasan penting tentang ruang tengah, yang dalam banyak pembahasan arsitektur Bali berkaitan dengan natah.
Natah tidak hanya dapat dilihat sebagai halaman kosong.
Ia dapat menjadi ruang pertemuan.
Ruang aktivitas.
Ruang antara bangunan.
Ruang yang memungkinkan cahaya dan udara masuk.
Ruang yang menghubungkan berbagai bagian kehidupan dalam satu pekarangan.
Karena itu, nantinya kita perlu membahas natah secara lebih khusus.
Sanga Mandala membantu kita memahami organisasi keseluruhan.
Natah membantu kita memahami kehidupan di dalam hubungan tersebut.
8. Dari Rumah Menuju Permukiman
Konsep organisasi ruang tidak berhenti pada rumah.
Pada skala yang lebih besar, prinsip-prinsip orientasi dan hierarki dapat hadir dalam organisasi permukiman tradisional.
Kajian tentang permukiman tradisional Bali menunjukkan keterkaitan antara Bhuwana Agung–Bhuwana Alit, Tri Hita Karana, Tri Angga, Hulu–Teben, dan Sanga Mandala dalam membentuk pola ruang pada skala rumah maupun permukiman.
Artinya, ruang rumah dan ruang desa tidak harus dipahami sebagai dua dunia yang sepenuhnya terpisah.
Keduanya dapat memperlihatkan cara berpikir yang memiliki kesinambungan:
individu → keluarga → pekarangan → lingkungan → desa → wilayah.
Di setiap skala terdapat hubungan.
Dan pada setiap skala terdapat kebutuhan untuk menjaga keseimbangan.
9. Sanga Mandala dan Catus Patha
Dalam perkembangan ruang permukiman Bali, organisasi ruang juga berhubungan dengan ruang publik dan titik pertemuan.
Salah satu yang penting adalah catus patha, persilangan empat jalan yang dalam konteks tertentu menjadi pusat orientasi dan aktivitas masyarakat.
Ruang semacam ini menunjukkan bahwa persilangan bukan sekadar persoalan transportasi.
Persilangan dapat menjadi tempat bertemunya manusia, aktivitas, simbol, dan kehidupan sosial.
Di sinilah konsep ruang menjadi semakin menarik.
Sebuah persimpangan dapat menjadi:
ruang pergerakan,
sekaligus
ruang pertemuan.
Dalam konteks kontemporer, kita dapat belajar dari sini bahwa jaringan jalan tidak seharusnya hanya dinilai berdasarkan kapasitas kendaraan.
Kita juga perlu bertanya:
Apa yang terjadi pada kehidupan manusia di ruang pertemuan tersebut?
10. Dari Kosmologi ke Fungsi
Sanga Mandala sering dibicarakan dalam kaitannya dengan kosmologi.
Hal tersebut penting.
Namun apabila pembahasannya berhenti pada simbol, kita kehilangan sebagian potensinya.
Yang menarik justru adalah bagaimana sebuah pandangan tentang kosmos dapat diterjemahkan menjadi organisasi fungsi.
Di mana orang tinggal?
Di mana orang berkegiatan?
Di mana ruang ritual ditempatkan?
Di mana ruang terbuka berada?
Bagaimana orang masuk dan keluar?
Bagaimana satu ruang berhubungan dengan ruang lainnya?
Bagaimana batas antara ruang publik dan privat?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut memperlihatkan bahwa filosofi akhirnya bertemu dengan kehidupan sehari-hari.
11. Sanga Mandala Bukan Formula Tunggal
Di sinilah kita perlu berhati-hati.
Sanga Mandala tidak seharusnya dipahami sebagai satu pola geometris yang wajib diterapkan secara identik di seluruh Bali.
Kajian mengenai lanskap perkotaan Bali menunjukkan bahwa susunan ruang dapat berbeda menurut pengetahuan lokal dan konteks tempat, waktu, serta keadaan. Bahkan dalam kajian mengenai tata ruang kota Bali, Sanga Mandala ditempatkan bersama Kaja–Kelod, Kangin–Kauh, dan sistem pengetahuan lokal lainnya, bukan sebagai satu-satunya prinsip pembentuk ruang.
Hal tersebut sejalan dengan gagasan Desa Kala Patra.
Bali memiliki keragaman geografis.
Bali memiliki keragaman sejarah.
Bali memiliki keragaman desa dan komunitas.
Karena itu, kesamaan prinsip tidak selalu menghasilkan kesamaan bentuk.
Yang dapat diwariskan bukan keseragaman bentuk, tetapi kemampuan membaca hubungan.
12. Sanga Mandala dan Jati Diri Bali
Jika kita kembali pada pembahasan Artikel 03 tentang Taksu dan Jati Diri Bali, kita dapat melihat hubungan yang menarik.
Jati diri tidak harus berarti semua bangunan Bali harus memiliki bentuk yang sama.
Demikian pula, Sanga Mandala tidak harus berarti semua ruang Bali harus memiliki susunan geometris yang identik.
Yang lebih penting adalah cara berpikir di baliknya.
Ruang memiliki:
- arah;
- hierarki;
- fungsi;
- hubungan;
- pusat;
- batas;
- transisi;
- dan kehidupan.
Inilah yang membuat ruang menjadi lebih dari sekadar objek fisik.
Karena itu, ketika kita berbicara tentang jati diri arsitektur dan ruang Bali, kita dapat bergerak:
dari bentuk → menuju prinsip.
Kemudian:
dari prinsip → menuju hubungan.
Dan akhirnya:
dari hubungan → menuju kehidupan.
13. Sanga Mandala dalam Arsitektur Kontemporer
Pertanyaan berikutnya adalah:
Apakah Sanga Mandala masih relevan ketika Bali berkembang menjadi wilayah perkotaan modern?
Pertanyaan ini tidak harus dijawab dengan “ya” atau “tidak”.
Yang lebih produktif adalah bertanya:
Apa yang dapat dipelajari dari cara berpikir Sanga Mandala untuk menjawab kebutuhan ruang masa kini?
Misalnya:
Bagaimana ruang publik dan privat diorganisasikan?
Bagaimana pusat aktivitas dibentuk?
Bagaimana ruang terbuka ditempatkan?
Bagaimana bangunan berhubungan dengan lingkungan?
Bagaimana ruang transisi dirancang?
Bagaimana aktivitas yang berbeda dapat hidup berdampingan?
Bagaimana identitas lokal dipertahankan tanpa menolak perkembangan?
Kajian kontemporer tentang desain perkotaan Denpasar menunjukkan bahwa konsep-konsep seperti Tri Mandala, Sanga Mandala, Natah–Lebuh, Hulu–Teben, Tri Hita Karana, dan prinsip keselarasan lingkungan masih digunakan sebagai bagian dari pembacaan identitas ruang dan arsitektur Bali kontemporer.
Namun penggunaannya perlu tetap kontekstual.
14. Dari “Membagi Ruang” Menjadi “Menghubungkan Ruang”
Mungkin inilah salah satu cara paling sederhana untuk memahami Sanga Mandala.
Pada pandangan pertama, ia terlihat seperti sistem pembagian ruang.
Tetapi apabila kita melihat lebih dalam, ia justru berbicara tentang hubungan antarbagian.
Utama membutuhkan madya.
Madya membutuhkan nista.
Pusat membutuhkan tepi.
Dalam membutuhkan luar.
Bangunan membutuhkan ruang terbuka.
Manusia membutuhkan alam.
Kawasan membutuhkan wilayah di sekitarnya.
Tidak ada satu bagian yang benar-benar berdiri sendiri.
Karena itu, Sanga Mandala dapat dibaca sebagai sebuah pelajaran tentang kesatuan dalam keberagaman ruang.
15. Sanga Mandala dan Tata Ruang Modern
Tata ruang modern menggunakan berbagai instrumen untuk mengatur ruang.
Ada struktur ruang.
Ada pola ruang.
Ada kawasan strategis.
Ada jaringan prasarana.
Ada zonasi.
Ada intensitas pemanfaatan ruang.
Ada ketentuan pengendalian.
Semua itu memiliki dasar hukum dan metodologi masing-masing.
Sanga Mandala tidak dimaksudkan untuk menggantikan instrumen tersebut.
Sebaliknya, ia dapat menjadi cara reflektif untuk melihat bagaimana ruang-ruang tersebut saling berhubungan.
Misalnya:
Apakah pusat pelayanan terhubung dengan permukiman?
Apakah ruang terbuka terhubung dengan jaringan ekologis?
Apakah kawasan ekonomi terhubung dengan transportasi?
Apakah perkembangan kawasan mempertimbangkan lingkungan?
Apakah ruang publik benar-benar dapat diakses masyarakat?
Apakah fungsi-fungsi yang berbeda dapat hidup berdampingan?
Pertanyaan semacam ini membawa kita dari sekadar zonasi menuju keterhubungan ruang.
16. Sanga Mandala dan Data Geospasial
Pada zaman sekarang, kita memiliki kemampuan untuk memetakan ruang dengan sangat detail.
Kita dapat melihat:
- penggunaan lahan;
- jaringan jalan;
- bangunan;
- kepadatan;
- ruang terbuka;
- ketinggian;
- kemiringan;
- hidrologi;
- kawasan lindung;
- risiko bencana;
- dan berbagai informasi geospasial lainnya.
Namun peta tetap merupakan representasi.
Ia tidak sepenuhnya menggambarkan bagaimana manusia mengalami ruang.
Sebuah GIS dapat menunjukkan lokasi sebuah lapangan.
Tetapi belum tentu menjelaskan mengapa lapangan itu penting bagi masyarakat.
Data dapat menunjukkan sebuah pusat permukiman.
Tetapi belum tentu menjelaskan bagaimana masyarakat memberi makna pada pusat tersebut.
Karena itu, pengetahuan spasial modern membutuhkan dialog dengan pengetahuan tempat.
Sanga Mandala dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk dialog tersebut.
17. Membaca Sanga Mandala sebagai Sistem
Daripada menghafalkan sembilan bagian sebagai sembilan kotak, kita dapat mencoba membaca Sanga Mandala melalui beberapa pertanyaan:
Pertama — Orientasi
Ke mana ruang menghadap?
Kedua — Posisi
Di mana ruang tersebut berada dalam keseluruhan sistem?
Ketiga — Hierarki
Apa tingkat nilai atau kepentingannya?
Keempat — Fungsi
Aktivitas apa yang berlangsung di dalamnya?
Kelima — Hubungan
Dengan ruang apa ia berhubungan?
Keenam — Transisi
Bagaimana manusia berpindah dari satu ruang ke ruang lain?
Ketujuh — Kehidupan
Apa yang terjadi di dalam ruang tersebut?
Kedelapan — Konteks
Bagaimana desa, waktu, dan keadaan memengaruhi penerapannya?
Dengan cara ini, Sanga Mandala menjadi bukan hanya konsep arsitektur.
Ia menjadi cara membaca sistem ruang.
18. Dari Sembilan Ruang Menuju Satu Kehidupan
Ada satu hal yang menarik.
Judul artikel ini adalah:
Sembilan Ruang, Satu Kesatuan Kehidupan.
Mengapa?
Karena sembilan bagian tidak dimaksudkan untuk menciptakan sembilan dunia yang terpisah.
Justru sebaliknya.
Sembilan bagian membentuk satu sistem.
Seperti tubuh manusia yang terdiri atas banyak organ.
Seperti desa yang terdiri atas banyak pekarangan.
Seperti kota yang terdiri atas banyak kawasan.
Seperti Bali yang terdiri atas banyak desa, kota, wilayah, dan bentang alam.
Keberagaman bagian tidak menghilangkan kesatuan.
Justru hubungan antarbagianlah yang membentuk kesatuan.
19. Dari Sanga Mandala Menuju Natah
Setelah memahami Sanga Mandala sebagai organisasi ruang, kita dapat melihat kembali satu pertanyaan yang sangat penting:
Di mana kehidupan bertemu?
Jawabannya membawa kita kepada Natah.
Natah adalah ruang tengah.
Tetapi ruang tengah tidak berarti ruang kosong.
Ia dapat menjadi ruang kehidupan.
Tempat cahaya masuk.
Tempat udara bergerak.
Tempat manusia beraktivitas.
Tempat berbagai bangunan saling berhubungan.
Tempat ruang dalam dan ruang luar bertemu.
Karena itu, setelah Sanga Mandala, pembahasan tentang Natah menjadi sangat alami.
Jika Sanga Mandala berbicara tentang struktur keseluruhan, maka Natah mengajak kita masuk ke pengalaman manusia di dalam struktur tersebut.
Penutup
Sanga Mandala mengajarkan bahwa ruang tidak harus dipahami sebagai kumpulan bidang yang berdiri sendiri.
Ruang adalah hubungan.
Ada arah.
Ada hierarki.
Ada fungsi.
Ada pusat.
Ada batas.
Ada transisi.
Dan di antara semuanya terdapat kehidupan.
Dari Kaja–Kelod kita belajar membaca gunung dan laut.
Dari Kangin–Kauh kita belajar membaca matahari dan waktu.
Dari Sanga Mandala kita mulai belajar bagaimana berbagai orientasi tersebut disusun menjadi organisasi ruang.
Namun tujuan akhirnya bukan membentuk ruang yang kaku.
Tujuannya adalah menciptakan ruang yang mampu menjaga hubungan.
Hubungan manusia dengan manusia.
Hubungan manusia dengan alam.
Hubungan ruang dengan ruang.
Hubungan masa lalu dengan masa depan.
Karena itu, mungkin makna terdalam Sanga Mandala bukanlah sembilan petak.
Melainkan sebuah kesadaran:
Bahwa kehidupan terdiri atas banyak bagian, tetapi kualitas kehidupan ditentukan oleh bagaimana bagian-bagian tersebut saling berhubungan.
Dan dari sembilan ruang itu, kita akhirnya kembali kepada satu hal:
kehidupan.
Catatan Konseptual
Dalam artikel ini, Sanga Mandala dipahami sebagai konsep organisasi ruang dalam khazanah arsitektur dan permukiman Bali. Penerapannya dapat berbeda menurut skala, tempat, tradisi lokal, serta konteks desa, kala, patra . Karena itu, artikel ini tidak menempatkan satu diagram Sanga Mandala sebagai pola yang wajib dan seragam bagi seluruh Bali.
Secara khusus, perlu dibedakan antara konsep budaya/arsitektural dan ketentuan teknis maupun hukum penataan ruang. Sanga Mandala dapat menjadi sumber literasi, prinsip reflektif, dan cara membaca hubungan ruang, tetapi tidak menggantikan RTRW, RDTR, ketentuan bangunan gedung, maupun standar teknis yang berlaku.
Referensi
Aryani, N. P., & Tanuwidjaja, G. (2013). Sustainable architectural design in a traditional Balinese housing in accordance to the concept of Tri Mandala. Journal of Architecture & Environment, 12 (2), 113–124.
Barliana, M. S., Ilhamdaniah, Adhi, N., Mardiana, R., & Dwidayati, K. H. (2025). Contemporary urban design in Denpasar based on Balinese local culture and architecture. City and Built Environment, 3 , 2. https://doi.org/10.1007/s44213-025-00043-w
Dewi, R. S., & Joedawinata, A. (2023). Sanga Mandala concept study in Balinese traditional architecture. Proceeding of the 3rd International Conference on Business, Economics, Social Sciences, and Humanities, 3 , 598–605. https://doi.org/10.34010/icobest.v1i.222
Dwijendra, N. K. A. (2003). Perumahan dan permukiman tradisional Bali. Jurnal Natah, 1 (1).
Mashuri. (2011). Konsep kosmologi dalam arsitektur vernakular: Kasus penataan pemukiman tradisional di Bali. RUANG: Jurnal Arsitektur, 3 (2), 37–42. https://doi.org/10.22487/ruang.v3i2%20September.137
Pemerintah Provinsi Bali. (2023). Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 2 Tahun 2023 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Bali Tahun 2023–2043 .
Pitana, T. S., & Sari, P. A. (2026). Symbolic meaning of space: Interpreting cosmological order in Indigenous Balinese and Javanese architecture. Jurnal Kajian Bali, 16 (2). https://doi.org/10.24843/JKB.2026.v16.i02.p13
Suryada, I. G. A. B. (2012). Konsepsi Tri Mandala dan Sanga Mandala dalam tatanan arsitektur tradisional Bali.
Wiryawan, I. W., & Ernawati, N. (2024). Tri Hita Karana in the spatial planning of Bali Province in national and regional regulations as an environmental conservation effort. International Journal of Environmental Impacts, 7 (1), 31–40. https://doi.org/10.18280/ijei.070104