Sanga Mandala: Sembilan Ruang, Satu Kesatuan Kehidupan
Memahami Sanga Mandala sebagai konsep organisasi ruang yang mempertemukan orientasi, hierarki, fungsi, dan hubungan dalam kehidupan Bali. Literasi ini mengajak melihat sembilan bagian ruang bukan sekadar pembagian geometris, tetapi sebagai satu kesatuan kehidupan yang berkembang dari hubungan Kaja–Kelod, Kangin–Kauh, Tri Mandala, serta pengetahuan lokal Bali.
Kangin–Kauh: Matahari, Waktu, dan Orientasi Kehidupan
Memahami Kangin–Kauh sebagai orientasi ruang yang menghubungkan matahari, waktu, arah, manusia, alam, dan kehidupan. Literasi ini mengajak melihat orientasi ruang Bali bukan sekadar koordinat geografis, tetapi sebagai cara memahami cahaya, perubahan, konteks tempat, arsitektur, dan keberlanjutan kehidupan.
Kaja–Kelod: Antara Gunung dan Laut, Membaca Orientasi Gumi Bali
Memahami Kaja–Kelod sebagai orientasi ruang yang menghubungkan gunung, laut, hulu, hilir, manusia, dan kehidupan dalam konteks Gumi Bali. Literasi ini mengajak melihat bahwa arah dalam budaya Bali bukan sekadar koordinat geografis, tetapi juga cara membaca tempat, memberi makna pada ruang, dan membangun hubungan manusia dengan alam serta kehidupan.
Hulu–Teben: Memahami Arah, Nilai, dan Kesadaran Ruang Bali
Memahami konsep Hulu–Teben sebagai salah satu cara pandang dalam membaca arah, hierarki, dan nilai ruang dalam kehidupan Bali. Literasi ini mengajak melihat bahwa arah bukan sekadar persoalan geografis, tetapi berkaitan dengan orientasi, kesadaran terhadap tempat, hubungan manusia dengan alam, serta cara suatu ruang diberi makna dalam konteks desa, kala, patra.
Konsep Sanga Mandala dalam Arsitektur Tradisional Bali
Memahami Sanga Mandala sebagai konsep organisasi ruang Bali yang menghubungkan orientasi, hierarki, fungsi, dan kehidupan dalam arsitektur tradisional.




