Konsep Sanga Mandala dalam Arsitektur Tradisional Bali

A
Ditulis oleh Admin
Diterbitkan pada 15 Agustus 2024
Sedang Mendengarkan
Konsep Sanga Mandala dalam Arsitektur Tradisional Bali
Sanga Mandala Sanga Mandala Bali Arsitektur Tradisional Bali Arsitektur Bali Tata Ruang Bali Struktur Ruang Pola Ruang Organisasi Ruang Orientasi Ruang Tri Mandala Tri Angga Tri Hita Karana Kaja Kelod Kangin Kauh Hulu Teben Natah Catus Patha Desa Kala Patra Permukiman Tradisional Bali kearifan lokal Bali Jati Diri Bali Ruang Kehidupan

Konsep Sanga Mandala dalam Arsitektur Tradisional Bali

Ketika Arah, Hierarki, dan Fungsi Membentuk Organisasi Ruang

1. Pendahuluan

Arsitektur tradisional Bali tidak hanya berbicara mengenai bentuk bangunan. Di balik bentuk tersebut terdapat cara pandang mengenai hubungan manusia, alam, ruang, dan kehidupan.

Salah satu konsep penting dalam membaca organisasi ruang tersebut adalah Sanga Mandala.

Secara sederhana, Sanga Mandala dapat dipahami sebagai susunan ruang dalam sembilan bagian. Namun, pemahamannya tidak cukup hanya dengan membayangkan sebuah bidang yang dibagi menjadi sembilan petak.

Sanga Mandala berkaitan dengan pertemuan berbagai orientasi dan tingkatan ruang. Di dalamnya terdapat hubungan antara Kaja–Kelod, Kangin–Kauh, hierarki Utama–Madya–Nista, fungsi ruang, serta hubungan antara satu bagian dengan bagian lainnya.

Karena itu, Sanga Mandala dapat dipahami sebagai salah satu cara masyarakat Bali mengorganisasikan ruang berdasarkan nilai, orientasi, fungsi, dan hubungan kehidupan.

Ruang tidak berdiri sendiri.

Ruang memiliki arah.

Arah memiliki nilai.

Nilai berhubungan dengan fungsi.

Dan fungsi berhubungan dengan kehidupan manusia.



2. Dari Tri Mandala Menuju Sanga Mandala

Dalam pembahasan tata ruang tradisional Bali, Tri Mandala memberikan dasar pembacaan ruang melalui tiga tingkatan:

  • Utama, sebagai tingkat yang memiliki nilai utama;
  • Madya, sebagai tingkat antara;
  • Nista, sebagai tingkat yang berada pada bagian bawah atau memiliki fungsi berbeda dari zona utama.

Tri Mandala tidak semata-mata merupakan pembagian fisik. Ia juga berkaitan dengan hierarki, fungsi, nilai, dan hubungan antarruang.

Sanga Mandala kemudian memperlihatkan organisasi ruang yang lebih kompleks.

Secara konseptual, tiga tingkatan tersebut dapat dibaca melalui variasi posisi:

  • Utamaning Utama
  • Utamaning Madya
  • Utamaning Nista
  • Madyaning Utama
  • Madyaning Madya
  • Madyaning Nista
  • Nistaning Utama
  • Nistaning Madya
  • Nistaning Nista

Dengan demikian, Sanga Mandala bukan sekadar persoalan jumlah ruang.

Yang menjadi penting adalah hubungan antarposisi dalam satu kesatuan ruang.


3. Dua Sumbu Orientasi

Salah satu dasar penting dalam membaca ruang Bali adalah orientasi.

Pertama adalah Kaja–Kelod, yang secara umum berkaitan dengan orientasi gunung–laut.

Kedua adalah Kangin–Kauh, yang berkaitan dengan arah matahari terbit–matahari terbenam.

Ketika kedua orientasi tersebut bertemu, ruang memperoleh struktur yang lebih kompleks.

Posisi suatu ruang tidak hanya ditentukan oleh fungsi, tetapi juga oleh letaknya terhadap ruang lain dan terhadap keseluruhan sistem orientasi.

Dari sinilah Sanga Mandala dapat dibaca sebagai organisasi ruang yang memiliki beberapa tingkatan dan posisi.

Dengan demikian, Sanga Mandala merupakan bagian dari perjalanan pemikiran ruang Bali:

Orientasi → Hierarki → Posisi → Fungsi → Hubungan → Kehidupan


4. Sembilan Ruang dalam Satu Kesatuan

Kata sanga berarti sembilan.

Namun, sembilan dalam konteks Sanga Mandala tidak seharusnya dipahami hanya sebagai angka atau jumlah petak.

Sembilan menunjukkan adanya berbagai posisi dalam satu kesatuan.

Ada ruang yang memiliki nilai utama.

Ada ruang madya.

Ada ruang nista.

Di antara tingkatan tersebut terdapat berbagai kemungkinan posisi dan hubungan.

Karena itu, sebuah ruang dapat dibaca melalui beberapa pertanyaan:

Di mana ruang tersebut berada?

Ke arah mana ruang tersebut berorientasi?

Apa fungsi ruang tersebut?

Apa nilai yang melekat pada posisinya?

Dengan ruang apa ia berhubungan?

Bagaimana manusia menggunakan dan mengalami ruang tersebut?

Dengan cara pandang tersebut, Sanga Mandala menjadi lebih dari sekadar pola geometris.

Ia menjadi bahasa untuk membaca organisasi ruang.


5. Sanga Mandala dalam Arsitektur Tradisional Bali

Dalam arsitektur tradisional Bali, organisasi ruang tidak dilakukan secara acak.

Penempatan berbagai bangunan dan ruang mempertimbangkan orientasi, fungsi, hubungan antarbangunan, hierarki, serta konteks kehidupan penghuni.

Pada skala pekarangan, misalnya, terdapat berbagai elemen dengan fungsi yang berbeda.

Ada bangunan untuk aktivitas keluarga.

Ada bangunan untuk kegiatan ritual.

Ada ruang terbuka.

Ada ruang pelayanan.

Ada ruang transisi.

Ada pula ruang yang menghubungkan berbagai elemen tersebut.

Keseluruhannya membentuk satu sistem.

Karena itu, rumah tradisional Bali lebih tepat dipahami sebagai komposisi kehidupan, bukan sekadar kumpulan bangunan.


6. Natah sebagai Ruang Penghubung

Salah satu unsur penting dalam organisasi ruang rumah tradisional Bali adalah natah.

Natah sering dipahami sebagai ruang terbuka di tengah pekarangan.

Namun, natah bukan sekadar ruang kosong.

Ia dapat menjadi:

  • ruang pertemuan;
  • ruang aktivitas keluarga;
  • ruang transisi;
  • ruang masuknya cahaya dan udara;
  • ruang antara berbagai bangunan;
  • serta ruang yang menghubungkan berbagai bagian kehidupan dalam satu pekarangan.

Dengan demikian, keberadaan natah memperlihatkan bahwa ruang terbuka mempunyai fungsi penting dalam organisasi kehidupan.

Bangunan memperoleh hubungan melalui ruang terbuka.

Ruang dalam berhubungan dengan ruang luar.

Aktivitas manusia berhubungan dengan lingkungan.

Sanga Mandala membantu membaca struktur keseluruhan, sedangkan natah membantu memahami bagaimana kehidupan berlangsung di dalam struktur tersebut.


7. Sanga Mandala dan Catus Patha

Pada skala permukiman, organisasi ruang Bali juga berkaitan dengan keberadaan ruang pertemuan dan jaringan pergerakan.

Salah satu unsur penting adalah Catus Patha, yaitu persilangan empat jalan.

Dalam konteks tertentu, Catus Patha dapat menjadi pusat orientasi dan aktivitas masyarakat.

Persilangan tersebut bukan hanya persoalan pergerakan.

Ia juga dapat menjadi ruang pertemuan manusia, aktivitas sosial, simbol, dan kehidupan masyarakat.

Hal tersebut menunjukkan bahwa jaringan ruang tidak hanya perlu dilihat dari fungsi teknisnya.

Sebuah jalan tidak hanya menjadi tempat kendaraan bergerak.

Sebuah persimpangan tidak hanya menjadi titik pertemuan jaringan transportasi.

Ruang juga dapat menjadi tempat berlangsungnya kehidupan sosial dan budaya.


8. Variasi dan Fleksibilitas: Desa, Kala, Patra

Salah satu karakter penting dalam kebudayaan ruang Bali adalah adanya kemampuan beradaptasi terhadap konteks.

Konsep Desa Kala Patra memperlihatkan bahwa penerapan suatu prinsip dapat mempertimbangkan tempat, waktu, dan keadaan.

Karena itu, kesamaan prinsip tidak selalu menghasilkan bentuk ruang yang sama.

Bali memiliki keragaman geografis.

Bali memiliki keragaman sejarah.

Bali memiliki keragaman desa dan komunitas.

Perbedaan tersebut dapat menghasilkan variasi dalam pola permukiman maupun arsitektur.

Dengan demikian, Sanga Mandala tidak seharusnya dipahami sebagai formula yang wajib menghasilkan bentuk geometris identik di seluruh Bali.

Yang lebih penting adalah prinsip organisasi ruang yang berada di baliknya.

Kesamaan nilai tidak harus menghasilkan keseragaman bentuk.

9. Ukuran, Proporsi, dan Asta Kosala Kosali

Dalam arsitektur tradisional Bali, pengaturan ruang juga berkaitan dengan sistem ukuran dan proporsi.

Tradisi Asta Kosala Kosali mengenal berbagai prinsip pengukuran yang berhubungan dengan tubuh manusia, ukuran bangunan, jarak antarbangunan, serta hubungan antarunsur dalam pekarangan.

Salah satu sistem yang dikenal adalah Asta Wara, yaitu:

Sri – Indra – Guru – Yama – Rudra – Brahma – Kala – Uma.

Dalam praktik tradisional tertentu, perhitungan tersebut digunakan dalam menentukan jarak atau ukuran berdasarkan tapak dan dilengkapi dengan pengurip .

Hal ini menunjukkan bahwa ukuran dalam arsitektur tradisional Bali tidak selalu dipahami sebagai angka abstrak.

Ukuran dapat memiliki hubungan dengan manusia, fungsi bangunan, simbol, dan keyakinan yang melatarbelakangi pembangunannya.

Karena itu, proporsi dan ukuran merupakan bagian dari sistem pengetahuan arsitektur yang lebih luas.

10. Sanga Mandala sebagai Sistem Hubungan

Salah satu pelajaran penting dari Sanga Mandala adalah bahwa sebuah ruang memperoleh makna melalui hubungannya dengan ruang lain.

Ruang utama memiliki hubungan dengan ruang madya dan nista.

Ruang tengah memiliki hubungan dengan ruang di sekelilingnya.

Ruang masuk memiliki hubungan dengan ruang dalam.

Ruang publik memiliki hubungan dengan ruang privat.

Bangunan memiliki hubungan dengan ruang terbuka.

Dengan demikian:

Nilai suatu ruang tidak hanya berada di dalam ruang tersebut, tetapi juga dalam hubungannya dengan ruang lainnya.

Cara berpikir ini penting dalam memahami tata ruang.

Sebuah kawasan permukiman bukan hanya kumpulan rumah.

Ia berhubungan dengan jalan, air, ruang terbuka, fasilitas pelayanan, tempat ibadah, ruang ekonomi, serta lingkungan ekologis.

Ruang selalu berada dalam jaringan hubungan.


11. Dari Rumah Menuju Permukiman

Prinsip organisasi ruang tidak berhenti pada skala rumah.

Pada skala yang lebih besar, prinsip orientasi, hierarki, hubungan, dan pusat ruang dapat ditemukan dalam organisasi permukiman tradisional Bali.

Hubungan tersebut dapat dibaca secara berjenjang:

Individu → Keluarga → Pekarangan → Lingkungan → Desa → Wilayah

Pada setiap skala terdapat hubungan antarbagian.

Pada setiap skala terdapat kebutuhan untuk menjaga keseimbangan.

Karena itu, pembahasan mengenai arsitektur tradisional Bali tidak dapat sepenuhnya dipisahkan dari pembahasan mengenai permukiman dan wilayah.

Cara berpikir yang sama dapat berkembang dari ruang terkecil menuju ruang yang lebih luas.


12. Sanga Mandala dan Prinsip Tata Ruang Bali

Sanga Mandala dapat dibaca bersama dengan berbagai konsep lain dalam pengetahuan ruang Bali, antara lain:

Tri Hita Karana

Menempatkan hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, serta manusia dengan alam sebagai bagian dari keseimbangan kehidupan.

Tri Angga

Membaca bangunan dan ruang melalui tingkatan atau bagian yang memiliki hubungan hierarkis.

Kaja–Kelod

Membentuk orientasi ruang berdasarkan hubungan gunung dan laut.

Kangin–Kauh

Membentuk orientasi berdasarkan arah matahari terbit dan matahari terbenam.

Hulu–Teben

Membantu memahami hubungan antara bagian yang dianggap lebih utama dan bagian yang berada pada sisi lainnya.

Natah

Menyediakan ruang terbuka yang menghubungkan berbagai bagian dalam satu lingkungan.

Catus Patha

Menunjukkan pentingnya ruang pertemuan dalam struktur permukiman.

Konsep-konsep tersebut tidak harus dipahami sebagai sistem yang berdiri sendiri.

Sebaliknya, berbagai konsep tersebut dapat saling melengkapi dalam membaca ruang Bali.


13. Sanga Mandala Bukan Formula Tunggal

Penting untuk memahami bahwa Sanga Mandala tidak harus diterapkan sebagai satu pola geometris yang identik di seluruh Bali.

Penerapannya dapat berbeda menurut:

  • tempat;
  • kondisi geografis;
  • sejarah;
  • adat dan tradisi setempat;
  • skala ruang;
  • fungsi;
  • serta desa, kala, patra.

Karena itu, konsep Sanga Mandala lebih tepat dipahami sebagai kerangka pengetahuan untuk membaca hubungan ruang, bukan sebagai satu bentuk baku yang harus direplikasi.

Yang dapat diwariskan bukan semata-mata bentuknya.

Yang lebih penting adalah kemampuan membaca hubungan antara arah, nilai, fungsi, manusia, dan lingkungan.


14. Dari Kosmologi Menuju Kehidupan

Sanga Mandala sering dibicarakan dalam konteks kosmologi.

Hal tersebut penting.

Namun, apabila pembahasan berhenti pada simbol, kita kehilangan sebagian makna praktisnya.

Yang menarik adalah bagaimana pandangan mengenai kosmos dapat diterjemahkan menjadi organisasi kehidupan.

Di mana manusia tinggal?

Di mana kegiatan dilakukan?

Di mana ruang ritual ditempatkan?

Di mana ruang terbuka berada?

Bagaimana orang masuk dan keluar?

Bagaimana ruang publik berhubungan dengan ruang privat?

Bagaimana bangunan berhubungan dengan lingkungan?

Pertanyaan tersebut memperlihatkan bahwa filosofi ruang akhirnya bertemu dengan kehidupan sehari-hari.


15. Relevansi dalam Penataan Ruang Kontemporer

Sanga Mandala tidak dimaksudkan untuk menggantikan instrumen penataan ruang modern.

RTRW, RDTR, ketentuan bangunan gedung, standar teknis, dan instrumen pengendalian pemanfaatan ruang memiliki dasar hukum dan metodologi masing-masing.

Namun, Sanga Mandala dapat menjadi salah satu cara reflektif untuk membaca kualitas hubungan antarruang.

Misalnya:

  • Apakah pusat pelayanan terhubung dengan permukiman?
  • Apakah ruang terbuka terhubung dengan jaringan ekologis?
  • Apakah kawasan ekonomi terhubung dengan sistem transportasi?
  • Apakah perkembangan kawasan mempertimbangkan lingkungan?
  • Apakah ruang publik dapat diakses masyarakat?
  • Apakah berbagai fungsi dapat hidup berdampingan?

Pertanyaan tersebut membawa kita dari sekadar membagi ruang menuju menghubungkan ruang.


16. Dari Pembagian Ruang Menuju Keterhubungan

Pada pandangan pertama, Sanga Mandala terlihat sebagai sistem pembagian ruang.

Namun apabila dilihat lebih dalam, konsep ini juga dapat dibaca sebagai pemahaman mengenai hubungan antarbagian.

Utama membutuhkan madya.

Madya membutuhkan nista.

Pusat membutuhkan tepi.

Dalam membutuhkan luar.

Bangunan membutuhkan ruang terbuka.

Manusia membutuhkan alam.

Kawasan membutuhkan wilayah di sekitarnya.

Tidak ada satu bagian yang benar-benar berdiri sendiri.

Karena itu, Sanga Mandala dapat dibaca sebagai pelajaran tentang kesatuan dalam keberagaman ruang.


17. Cara Membaca Sanga Mandala

Untuk memahami Sanga Mandala secara lebih kontekstual, kita dapat mengajukan beberapa pertanyaan sederhana:

Pertama — Orientasi  
Ke mana ruang menghadap?

Kedua — Posisi  
Di mana ruang tersebut berada dalam keseluruhan sistem?

Ketiga — Hierarki  
Apa tingkat nilai atau kepentingannya?

Keempat — Fungsi  
Aktivitas apa yang berlangsung di dalamnya?

Kelima — Hubungan  
Dengan ruang apa ia berhubungan?

Keenam — Transisi  
Bagaimana manusia berpindah dari satu ruang ke ruang lainnya?

Ketujuh — Kehidupan  
Apa yang terjadi di dalam ruang tersebut?

Kedelapan — Konteks  
Bagaimana desa, kala, dan patra memengaruhi penerapannya?

Dengan cara ini, Sanga Mandala tidak hanya menjadi konsep arsitektur.

Ia menjadi salah satu cara membaca sistem ruang dan kehidupan.


18. Sanga Mandala dan Jati Diri Bali

Jati diri arsitektur Bali tidak harus berarti bahwa semua bangunan harus memiliki bentuk yang sama.

Demikian pula, Sanga Mandala tidak harus berarti bahwa seluruh ruang Bali harus memiliki susunan geometris yang identik.

Yang lebih penting adalah cara berpikir di baliknya.

Ruang memiliki:

  • arah;
  • hierarki;
  • fungsi;
  • hubungan;
  • pusat;
  • batas;
  • transisi;
  • dan kehidupan.

Karena itu, ketika berbicara mengenai jati diri arsitektur dan ruang Bali, perhatian dapat bergerak:

dari bentuk → menuju prinsip

kemudian:

dari prinsip → menuju hubungan

dan akhirnya:

dari hubungan → menuju kehidupan.


19. Penutup

Sanga Mandala mengajarkan bahwa ruang tidak harus dipahami sebagai kumpulan bidang yang berdiri sendiri.

Ruang adalah hubungan.

Ada arah.

Ada hierarki.

Ada fungsi.

Ada pusat.

Ada batas.

Ada transisi.

Dan di antara semuanya terdapat kehidupan.

Dari Kaja–Kelod kita belajar membaca hubungan gunung dan laut.

Dari Kangin–Kauh kita belajar membaca orientasi matahari dan arah.

Dari Tri Mandala kita belajar membaca tingkatan ruang.

Dari Sanga Mandala kita belajar melihat bagaimana berbagai orientasi, tingkatan, fungsi, dan posisi dapat membentuk suatu organisasi ruang.

Namun tujuan akhirnya bukan menciptakan ruang yang kaku.

Tujuannya adalah menjaga hubungan.

Hubungan manusia dengan manusia.

Hubungan manusia dengan alam.

Hubungan ruang dengan ruang.

Hubungan masa lalu dengan masa depan.

Karena itu, makna Sanga Mandala tidak berhenti pada sembilan ruang.

Ia mengajak kita memahami bahwa kehidupan terdiri atas banyak bagian, tetapi kualitas kehidupan ditentukan oleh bagaimana bagian-bagian tersebut saling berhubungan.

Catatan Konseptual

Dalam artikel ini, Sanga Mandala dipahami sebagai konsep organisasi ruang dalam khazanah arsitektur dan permukiman Bali. Penerapannya dapat berbeda menurut skala, tempat, tradisi lokal, serta konteks desa, kala, patra.

Sanga Mandala tidak ditempatkan sebagai satu diagram atau bentuk geometris yang wajib dan seragam bagi seluruh Bali.

Konsep budaya dan arsitektur juga perlu dibedakan dari ketentuan teknis dan hukum penataan ruang. Sanga Mandala dapat menjadi sumber literasi dan cara reflektif untuk membaca hubungan ruang, tetapi tidak menggantikan RTRW, RDTR, ketentuan bangunan gedung, maupun standar teknis yang berlaku.

Referensi

Adhika, I. M. (1994). Peran tata ruang dalam transformasi spasial desa adat di Bali . Universitas Gadjah Mada.

Aryani, N. P., & Tanuwidjaja, G. (2013). Sustainable architectural design in a traditional Balinese housing in accordance to the concept of Tri Mandala. Journal of Architecture & Environment, 12 (2), 113–124.

Barliana, M. S., Ilhamdaniah, Adhi, N., Mardiana, R., & Dwidayati, K. H. (2025). Contemporary urban design in Denpasar based on Balinese local culture and architecture. City and Built Environment, 3 , 2.

Dewi, R. S., & Joedawinata, A. (2023). Sanga Mandala concept study in Balinese traditional architecture. Proceeding of the 3rd International Conference on Business, Economics, Social Sciences, and Humanities, 3 , 598–605.

Dwijendra, N. K. A. (2003). Perumahan dan permukiman tradisional Bali. Jurnal Natah, 1 (1).

Mashuri. (2011). Konsep kosmologi dalam arsitektur vernakular: Kasus penataan pemukiman tradisional di Bali. RUANG: Jurnal Arsitektur, 3 (2), 37–42.

Pemerintah Provinsi Bali. (2023). Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 2 Tahun 2023 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Bali Tahun 2023–2043 .

Ditulis oleh Admin • Diterbitkan pada 15 Agustus 2024 • Diperbaharui pada 02 Oktober 2026