Tri Mandala: Menata Ruang melalui Kesadaran akan Tempat
Tri Mandala: Menata Ruang melalui Kesadaran akan Tempat
Pada artikel sebelumnya, kita membicarakan Tri Hita Karana sebagai cara memahami hubungan.
Manusia dengan Tuhan.
Manusia dengan sesama manusia.
Manusia dengan alam.
Lalu muncul pertanyaan berikutnya:
Bagaimana hubungan tersebut diwujudkan dalam ruang?
Salah satu jawabannya dapat ditemukan dalam khazanah tata ruang dan arsitektur Bali melalui konsep Tri Mandala.
Tri Mandala secara umum mengenal tiga tingkatan ruang:
Utama Mandala – Madya Mandala – Nista Mandala.
Namun, Tri Mandala bukan sekadar membagi sebuah lahan menjadi tiga bagian.
Di balik pembagian tersebut terdapat cara pandang mengenai nilai, hierarki, fungsi, orientasi, dan hubungan antarruang.
Karena itu, memahami Tri Mandala berarti belajar memahami bahwa ruang tidak selalu memiliki nilai yang sama.
Ada ruang yang memiliki nilai lebih tinggi.
Ada ruang yang menjadi ruang kehidupan bersama.
Ada pula ruang yang mendukung kegiatan pelayanan, transisi, dan fungsi lainnya.
Semuanya tetap merupakan bagian dari satu kesatuan.
1. Apa Itu Mandala?
Kata mandala dalam konteks Bali dapat dipahami sebagai ruang atau wilayah yang memiliki susunan, keteraturan, dan makna tertentu.
Dalam praktik arsitektur dan tata ruang tradisional Bali, konsep mandala hadir pada berbagai skala.
Mulai dari tempat suci.
Permukiman.
Desa.
Kawasan.
Hingga lingkungan yang lebih luas.
TARUBALI sendiri menjelaskan Tri Mandala melalui tiga tingkatan, yaitu Uttama Mandala, Madhyama Mandala, dan Kanistama Mandala, sekaligus menekankan hubungan antara dimensi vertikal dan horizontal dalam kehidupan tempat suci.
Artinya, mandala bukan hanya tentang bentuk fisik.
Ia berkaitan dengan cara manusia memberikan makna dan mengatur hubungan dalam ruang.
2. Tiga Tingkatan Ruang
Secara umum, Tri Mandala terdiri atas:
Utama Mandala
Merupakan bagian dengan nilai atau hierarki utama.
Dalam konteks tempat suci, bagian ini berkaitan dengan ruang yang paling sakral.
Madya Mandala
Merupakan ruang tengah atau ruang kehidupan antara.
Di sinilah berbagai aktivitas manusia dapat berlangsung sesuai dengan fungsi dan konteks tempat.
Nista Mandala
Merupakan bagian luar atau bagian dengan hierarki yang lebih rendah dalam susunan mandala.
Namun, istilah “nista” tidak seharusnya dipahami sebagai sesuatu yang buruk.
Ia menunjukkan tingkatan atau posisi dalam struktur ruang, bukan penilaian moral terhadap ruang tersebut.
Ketiganya bukan tiga dunia yang terpisah.
Ketiganya merupakan bagian dari satu kesatuan.
3. Jangan Membaca Tri Mandala Secara Kaku
Salah satu kesalahpahaman yang mungkin terjadi adalah menganggap Tri Mandala sebagai rumus universal yang selalu mempunyai bentuk sama.
Padahal, ruang Bali berkembang dalam konteks yang berbeda-beda.
Kondisi geografis berbeda.
Topografi berbeda.
Orientasi berbeda.
Sejarah berbeda.
Fungsi berbeda.
Tradisi masyarakat berbeda.
Karena itu, penerapan Tri Mandala perlu memperhatikan desa, kala, patra.
Pengetahuan ruang tidak hanya bertanya:
“Apa bentuknya?”
Tetapi juga:
“Di mana?”
“Kapan?”
“Untuk siapa?”
“Untuk kegiatan apa?”
“Dalam kondisi seperti apa?”
Inilah yang membuat pengetahuan ruang Bali tidak dapat dipisahkan dari konteks.
4. Utama, Madya, Nista Bukan Sekadar Tingkatan Fisik
Tri Mandala sering diterjemahkan secara sederhana sebagai:
Utama → paling utama
Madya → tengah
Nista → paling luar
Pemahaman tersebut benar sebagai pengantar, tetapi belum cukup.
Yang lebih penting adalah memahami bahwa pembagian tersebut menciptakan hierarki ruang.
Hierarki ruang berarti adanya perbedaan nilai, fungsi, intensitas kegiatan, akses, atau tingkat kesakralan sesuai dengan konteksnya.
Dengan demikian, sebuah ruang dapat memiliki fungsi yang berbeda tanpa berarti salah satu ruang tidak penting.
Justru keteraturan muncul karena masing-masing bagian memiliki peran.
Seperti tubuh manusia.
Kepala bukan kaki.
Kaki bukan tangan.
Namun semuanya diperlukan agar tubuh dapat berfungsi.
Cara berpikir seperti inilah yang kemudian berhubungan dengan konsep Tri Angga.
5. Dari Tri Mandala menuju Tri Angga
Jika Tri Mandala banyak digunakan untuk membaca pembagian ruang secara horizontal atau kewilayahan, maka Tri Angga membantu membaca susunan secara vertikal atau berdasarkan bagian tubuh.
Secara umum:
Utama Angga → kepala
Madya Angga → badan
Nista Angga → kaki
TARUBALI juga menjelaskan Tri Angga sebagai susunan tiga tingkatan fisik yang dapat diterapkan dari skala manusia hingga lingkungan yang lebih besar.
Dengan demikian, terdapat hubungan konseptual:
Tri Mandala → susunan ruang
Tri Angga → susunan bagian
Keduanya membantu membangun keteraturan.
Bukan hanya keteraturan visual, tetapi keteraturan yang berhubungan dengan fungsi dan makna.
6. Dari Manusia ke Ruang
Mengapa tubuh manusia sering menjadi referensi?
Karena manusia mengalami ruang melalui tubuhnya.
Kita berjalan.
Melihat.
Mendengar.
Merasakan panas dan dingin.
Merasakan terbuka dan tertutup.
Merasakan tinggi dan rendah.
Merasakan dekat dan jauh.
Dengan demikian, ruang bukan sesuatu yang hanya dilihat dari peta.
Ruang juga dialami.
Karena itu, ketika sebuah bangunan atau kawasan memiliki susunan ruang tertentu, susunan tersebut dapat memengaruhi bagaimana manusia bergerak, berhenti, berkumpul, berinteraksi, dan mengalami suatu tempat.
Inilah salah satu alasan mengapa pengetahuan ruang tradisional tetap menarik untuk dipelajari dalam konteks arsitektur kontemporer.
7. Tri Mandala pada Pura
Salah satu contoh yang paling mudah dilihat adalah pada tempat suci.
Secara umum kita mengenal pembagian:
Jero → ruang utama
Jaba Tengah → ruang antara
Jaba Sisi → ruang luar
Pembagian tersebut bukan sekadar pembagian halaman.
Masing-masing memiliki fungsi, aktivitas, tingkat kesakralan, dan hubungan yang berbeda.
Karena itu, seseorang yang memasuki tempat suci tidak hanya berpindah secara fisik.
Ia juga mengalami perubahan suasana dan makna ruang.
Dari ruang luar menuju ruang yang semakin dalam.
Dari aktivitas yang lebih umum menuju aktivitas yang lebih khusus.
Dari ruang kehidupan sehari-hari menuju ruang yang memiliki nilai spiritual lebih kuat.
Dengan demikian, perjalanan fisik dapat sekaligus menjadi perjalanan pengalaman.
8. Tri Mandala pada Permukiman
Tri Mandala juga dapat dibaca dalam konteks permukiman tradisional.
Penelitian tentang Desa Adat Penglipuran, misalnya, menunjukkan pembagian ruang yang berkaitan dengan Utama, Madya, dan Nista Mandala, dengan fungsi yang berbeda antara kawasan pura, permukiman, dan kawasan lainnya.
Hal tersebut memperlihatkan bahwa konsep mandala tidak hanya berada dalam bangunan keagamaan.
Ia dapat memengaruhi struktur kehidupan bersama.
Di dalam permukiman terdapat:
rumah,
ruang bersama,
tempat ibadah,
jalan,
ruang terbuka,
lahan pertanian,
dan berbagai elemen kehidupan lainnya.
Semua membentuk satu sistem.
Karena itu, memahami permukiman Bali tidak cukup hanya dengan menghitung bangunan.
Kita perlu memahami hubungan antarbangunan dan ruang yang membentuk kehidupan masyarakat.
9. Tri Mandala dan Orientasi
Tri Mandala juga berhubungan dengan orientasi.
Dalam kajian mengenai tata ruang Bali, orientasi kaja–kelod dan kangin–kauh menjadi bagian penting dalam memahami hubungan ruang dan kosmologi.
Kajian mengenai desain perkotaan Denpasar berbasis budaya Bali, misalnya, mengidentifikasi Tri Mandala bersama konsep kaja–kelod, hulu–teben, Tri Hita Karana, dan konsep lainnya sebagai bagian dari pengetahuan ruang yang memengaruhi pembentukan lingkungan perkotaan Bali.
Namun, orientasi tersebut juga tidak seharusnya dibaca secara matematis dan seragam.
Makna kaja dan kelod dapat dipengaruhi oleh kondisi geografis setempat.
Di Bali, gunung dan laut menjadi referensi penting.
Karena posisi geografis suatu tempat berbeda-beda, maka pemaknaan orientasi harus dibaca secara kontekstual.
Inilah pentingnya memahami ruang melalui tempat.
10. Tri Mandala dan Sanga Mandala
Jika Tri Mandala memberikan pembagian tiga tingkat, maka dalam perkembangan penataan ruang Bali kita juga mengenal Sanga Mandala, yaitu susunan ruang yang berkembang menjadi konfigurasi sembilan bagian.
Secara sederhana dapat dipahami:
Tri Mandala → tiga tingkat
Sanga Mandala → sembilan bagian
Namun, Sanga Mandala bukan sekadar membagi tiga menjadi sembilan.
Ia berkaitan dengan pengembangan orientasi, hierarki, dan hubungan ruang yang lebih kompleks.
Kajian tentang permukiman tradisional Bali juga menunjukkan hubungan antara Tri Angga sebagai susunan vertikal dan Sanga Mandala sebagai susunan horizontal.
Pada skala kota, kajian tentang lanskap perkotaan Bali juga menunjukkan bahwa Sanga Mandala dapat menjadi bagian dari sistem penataan ruang bersama dengan orientasi kaja–kelod, kangin–kauh, serta pengetahuan lokal lainnya.
Dengan demikian:
Tri Mandala memberikan dasar hierarki.
Sanga Mandala mengembangkan struktur ruang.
11. Dari Kosmologi menuju Tata Ruang
Di sinilah kita menemukan hubungan antara pengetahuan budaya dan penataan ruang.
Kosmologi memberikan cara memahami dunia.
Cara memahami dunia kemudian memengaruhi cara manusia menata tempat.
Cara menata tempat membentuk ruang.
Ruang kemudian memengaruhi kehidupan.
Sehingga dapat digambarkan:
Kosmologi → Nilai → Orientasi → Hierarki → Struktur Ruang → Aktivitas → Kehidupan
Urutan ini menunjukkan bahwa ruang tidak lahir secara kebetulan.
Di dalam banyak tradisi, ruang merupakan hasil dari proses panjang antara manusia, alam, nilai, dan pengalaman hidup.
12. Apakah Tri Mandala Masih Relevan?
Pertanyaan ini penting.
Bali hari ini bukan Bali beberapa abad yang lalu.
Kota berkembang.
Penduduk bertambah.
Mobilitas meningkat.
Teknologi berkembang.
Kebutuhan perumahan berubah.
Bangunan bertingkat semakin banyak.
Kawasan ekonomi dan pariwisata berkembang.
Maka, apakah konsep Tri Mandala masih dapat digunakan?
Jawabannya tidak perlu dicari melalui pertanyaan:
“Apakah bentuk lama harus dipertahankan seluruhnya?”
Pertanyaan yang lebih produktif adalah:
“Nilai apa yang dapat dipelajari dari cara ruang tradisional tersebut disusun?”
Misalnya:
- adanya hierarki ruang;
- penghormatan terhadap orientasi;
- pemisahan dan keterhubungan fungsi;
- transisi dari ruang umum menuju ruang khusus;
- hubungan antara manusia dan lingkungan;
- keteraturan tanpa menghilangkan konteks;
- serta kemampuan ruang membentuk pengalaman kehidupan.
Nilai-nilai tersebut dapat menjadi bahan refleksi untuk merancang ruang masa kini.
13. Tri Mandala Bukan Template Desain
Ada risiko ketika kearifan lokal diterapkan secara terlalu sederhana.
Misalnya, sebuah bangunan modern dibuat dengan tiga zona kemudian langsung disebut menerapkan Tri Mandala.
Secara visual mungkin terlihat benar.
Namun, pertanyaan yang lebih mendasar adalah:
Apakah pembagian tersebut memiliki hubungan dengan fungsi, konteks, orientasi, dan nilai tempat?
Jika tidak, maka Tri Mandala berpotensi hanya menjadi gaya visual.
Padahal kekuatan pengetahuan tradisional justru berada pada hubungan antara:
nilai – ruang – aktivitas – manusia – lingkungan.
Karena itu, penerapan Tri Mandala dalam arsitektur kontemporer sebaiknya tidak berhenti pada peniruan bentuk.
Kajian tentang penerapan Tri Mandala pada bangunan modern menunjukkan bahwa konsep tersebut memang dapat diterjemahkan ke dalam kebutuhan fungsi kontemporer, tetapi proses tersebut membutuhkan interpretasi terhadap makna tradisionalnya.
14. Tri Mandala dan Tata Ruang Kontemporer
Dalam konteks tata ruang modern, kita mengenal istilah:
kawasan lindung,
kawasan budi daya,
pusat pelayanan,
jaringan prasarana,
permukiman,
kawasan strategis,
dan berbagai kategori lainnya.
Kategori tersebut mempunyai dasar hukum dan metodologi perencanaan.
Tri Mandala tidak menggantikan sistem tersebut.
Namun, konsep ini dapat menjadi cara membaca struktur ruang berdasarkan nilai dan hubungan.
Misalnya, ketika merencanakan suatu kawasan, kita tidak hanya bertanya:
Apa fungsi lahan ini?
Tetapi juga:
Apa nilai tempat ini?
Bagaimana orientasinya?
Apa hubungan dengan kawasan di sekitarnya?
Apa ruang yang harus dijaga?
Apa ruang yang dapat dikembangkan?
Bagaimana transisi antara fungsi yang berbeda?
Pertanyaan tersebut dapat memperkaya proses perencanaan.
15. Dari “Zonasi” menuju “Relasi”
Dalam bahasa perencanaan modern, kita sering berbicara mengenai zonasi.
Zona A.
Zona B.
Zona C.
Namun, Tri Mandala mengingatkan bahwa ruang tidak hanya terdiri dari zona.
Ruang juga memiliki relasi.
Utama tidak dapat dipahami tanpa Madya.
Madya tidak dapat dipahami tanpa Nista.
Demikian pula ruang pusat tidak dapat dipahami tanpa ruang pendukung dan ruang transisinya.
Sebuah kawasan juga tidak dapat dipahami tanpa melihat hubungan dengan kawasan lain.
Karena itu, salah satu pelajaran penting dari Tri Mandala adalah:
Kualitas ruang tidak hanya ditentukan oleh isi suatu ruang, tetapi juga oleh hubungan ruang tersebut dengan ruang lainnya.
16. Tri Mandala dan Desa Kala Patra
Di sinilah konsep Desa Kala Patra menjadi penting.
Tri Mandala memberikan prinsip keteraturan.
Desa Kala Patra mengingatkan bahwa penerapan pengetahuan harus memperhatikan:
tempat, waktu, dan keadaan/konteks.
Dengan demikian, prinsip tidak selalu menghasilkan bentuk yang sama.
Dua desa dapat memiliki nilai yang sama tetapi bentuk ruang yang berbeda.
Dua bangunan dapat sama-sama menghormati prinsip hierarki tetapi menggunakan bentuk arsitektur yang berbeda.
Dua kawasan dapat sama-sama memperhatikan orientasi tetapi memiliki konfigurasi yang berbeda karena kondisi geografisnya.
Ini bukan inkonsistensi.
Justru di situlah kemampuan pengetahuan lokal untuk beradaptasi.
17. Tri Mandala dan Jati Diri
Pada artikel 03 kita membahas Taksu dan Jati Diri Bali.
Jati diri tidak hanya terletak pada bentuk.
Hal yang sama berlaku pada Tri Mandala.
Jati diri tidak harus diwujudkan dengan membuat semua ruang terlihat sama.
Yang lebih penting adalah apakah cara kita menata ruang masih memiliki kesadaran terhadap nilai dan konteks Bali.
Karena itu:
Jati diri → bukan keseragaman.
Jati diri → adalah kesinambungan nilai dalam perubahan.
Tri Mandala dapat menjadi salah satu pintu untuk memahami kesinambungan tersebut.
18. Tri Mandala dalam Skala yang Berbeda
Salah satu kekayaan konsep ruang Bali adalah kemampuannya dibaca pada berbagai skala.
Skala manusia
Tubuh manusia dapat dibaca melalui Tri Angga.
Skala bangunan
Bangunan dapat memiliki hierarki ruang dan bagian.
Skala pekarangan
Ruang dapat disusun berdasarkan hubungan fungsi dan orientasi.
Skala pura
Terdapat pembagian mandala berdasarkan hierarki ruang.
Skala permukiman
Ruang hunian, ruang sosial, tempat suci, dan ruang pendukung membentuk satu kesatuan.
Skala desa
Struktur desa dapat dibaca melalui hubungan pusat, permukiman, ruang terbuka, dan lingkungan.
Skala kawasan
Orientasi dan hubungan antarkawasan menjadi semakin penting.
Dengan demikian, ruang Bali bukan hanya memiliki bentuk; ia memiliki skala hubungan.
19. Pelajaran bagi Perencanaan Tata Ruang Bali
Apa yang dapat kita pelajari?
Pertama, ruang perlu dibaca berdasarkan nilai.
Kedua, ruang perlu dibaca berdasarkan hubungan.
Ketiga, ruang perlu dibaca berdasarkan konteks.
Keempat, hierarki ruang tidak selalu berarti diskriminasi fungsi, tetapi dapat menjadi cara menciptakan keteraturan.
Kelima, ruang transisi sama pentingnya dengan ruang utama.
Keenam, perkembangan baru tidak harus meniadakan prinsip lama.
Dan ketujuh:
kearifan lokal tidak harus menjadi pengganti ilmu pengetahuan modern; keduanya dapat berdialog.
Inilah salah satu tantangan penataan ruang Bali ke depan.
Bagaimana data geospasial, teknologi digital, regulasi, ilmu perencanaan, pengetahuan ekologis, dan kearifan lokal dapat bekerja dalam satu sistem pengetahuan.
20. Dari Tri Mandala menuju Tata Ruang yang Hidup
Peta tata ruang pada dasarnya merupakan abstraksi.
Ia menyederhanakan kenyataan agar dapat dipahami dan dikelola.
Namun kehidupan di lapangan jauh lebih kompleks.
Di dalam satu kawasan terdapat manusia.
Ada air.
Ada tanah.
Ada bangunan.
Ada jalan.
Ada pura.
Ada sawah.
Ada ekonomi.
Ada budaya.
Ada sejarah.
Ada ekologi.
Ada ingatan.
Karena itu, peta seharusnya tidak membuat kita lupa bahwa setiap warna pada peta mewakili kehidupan nyata.
Tri Mandala mengajarkan kita untuk membaca ruang sebagai susunan yang memiliki hubungan dan nilai.
21. Sebuah Kerangka Membaca Ruang Bali
Sebagai bagian dari serial Filosofi Ruang Bali , Tri Mandala dapat dibaca melalui tujuh pertanyaan:
1. Nilai apa yang terdapat pada ruang tersebut?
2. Apa fungsi utama ruang tersebut?
3. Bagaimana hierarkinya?
4. Bagaimana orientasinya?
5. Bagaimana hubungannya dengan ruang di sekitarnya?
6. Bagaimana manusia mengalami dan menggunakan ruang tersebut?
7. Bagaimana ruang tersebut dapat beradaptasi terhadap perubahan tanpa kehilangan nilai dasarnya?
Dengan pertanyaan tersebut, Tri Mandala tidak berhenti sebagai istilah tradisional.
Ia menjadi alat refleksi untuk membaca ruang.
22. Dari Tri Hita Karana ke Tri Mandala
Jika kita melihat kembali perjalanan serial ini:
Bhuwana Agung – Bhuwana Alit – Gumi Bali
mengajarkan kita melihat ruang sebagai kehidupan.
Mārkaṇḍeya
mengajak kita membaca hubungan manusia dengan tempat dan alam.
Taksu dan Jati Diri Bali
mengajak kita melihat nilai dan jiwa di balik bentuk.
Tri Hita Karana
mengajarkan bahwa kehidupan berlangsung melalui hubungan.
Dan kini:
Tri Mandala
mengajarkan bagaimana hubungan tersebut dapat diterjemahkan menjadi keteraturan ruang.
Sehingga kita dapat menyusun perjalanan pemikiran:
Ruang → Tempat → Jiwa → Hubungan → Struktur.
Refleksi untuk Krama Semeton
Ketika kita memasuki sebuah pura, kita tidak hanya memasuki halaman.
Ketika kita memasuki sebuah desa, kita tidak hanya melewati jalan.
Ketika kita tinggal di sebuah rumah, kita tidak hanya menempati bangunan.
Kita memasuki ruang yang memiliki susunan, hubungan, dan makna.
Karena itu, mungkin kita perlu belajar melihat ruang dengan cara yang sedikit berbeda.
Jangan hanya bertanya:
“Apa yang boleh dibangun di sini?”
Tetapi juga:
“Nilai apa yang sudah hidup di tempat ini?”
“Hubungan apa yang harus dijaga?”
“Ruang apa yang harus tetap ada?”
“Bagaimana perubahan dapat berlangsung tanpa memutus hubungan tersebut?”
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang membuat tata ruang tidak hanya menjadi urusan peta dan regulasi.
Ia menjadi bagian dari tanggung jawab kita terhadap tempat tinggal.
Terhadap masyarakat.
Terhadap alam.
Dan terhadap generasi yang akan datang.
Penutup Serial 05
Tri Mandala mengingatkan kita bahwa ruang tidak pernah benar-benar netral.
Setiap ruang memiliki posisi.
Setiap posisi memiliki hubungan.
Setiap hubungan memiliki nilai.
Dan setiap nilai membutuhkan cara untuk dijaga.
Karena itu:
Tri Mandala bukan sekadar membagi ruang menjadi Utama, Madya, dan Nista. Ia mengajarkan kita untuk memahami bahwa keteraturan ruang lahir dari kesadaran terhadap nilai, hubungan, orientasi, fungsi, dan konteks tempat.
Jika Tri Hita Karana mengajarkan kita menjaga hubungan, maka Tri Mandala mengajarkan kita membaca susunan ruang yang memungkinkan hubungan tersebut berlangsung.
Pada akhirnya:
Ruang yang baik bukan hanya ruang yang tertata.
Ruang yang baik adalah ruang yang membantu kehidupan tetap terhubung.
Catatan Konseptual
Dalam artikel ini, Tri Mandala digunakan sebagai kerangka literasi dan refleksi budaya-spasial, bukan sebagai standar teknis tunggal untuk menentukan zonasi setiap wilayah atau bangunan.
Penerapannya perlu memperhatikan konteks desa, kala, patra, kondisi geografis, fungsi ruang, ketentuan peraturan perundang-undangan, kebutuhan masyarakat, serta pengetahuan teknis perencanaan dan arsitektur.
Dengan demikian, pembacaan Tri Mandala tidak dimaksudkan untuk menyeragamkan ruang Bali, melainkan untuk memahami bagaimana nilai dan hierarki ruang dapat diterjemahkan secara kontekstual.
Referensi
Dewi, R. S., & Joedawinata, A. (2021). Tri Mandala in the layout of Pakraman Penglipuran Bangli, Bali. ARTic, 4 (1), 373–382. https://doi.org/10.34010/artic.v4i1.4790
Mashuri. (2011). Konsep kosmologi dalam arsitektur vernakular (kasus: konsep penataan pemukiman tradisional di Bali). RUANG: Jurnal Arsitektur, 3 (2), 37–42. https://doi.org/10.22487/ruang.v3i2%20September.137
Pitana, T. S., & Sari, P. A. (2026). Symbolic meaning of space: Interpreting cosmological order in indigenous Balinese and Javanese architecture. Jurnal Kajian Bali, 16 (2). https://doi.org/10.24843/JKB.2026.v16.i02.p13
Pemerintah Provinsi Bali. (2023). Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 2 Tahun 2023 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Bali Tahun 2023–2043 .
Widyapuspita, N., Hartanti, N. B., & Rahma, N. (2021). Redefining the concept of Tri Mandala cosmology in the spatial organization of resort hotel in Bali. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 780 , 012074. https://doi.org/10.1088/1755-1315/780/1/012074
Wiryawan, I. W., & Ernawati, N. (2024). Tri Hita Karana in the spatial planning of Bali Province in national and regional regulations as an environmental conservation effort. International Journal of Environmental Impacts, 7 (1), 31–40. https://doi.org/10.18280/ijei.070104