Data Kependudukan dan Sosial
Membaca Bali melalui Penduduk, Masyarakat, dan Dinamika Kehidupan
Penduduk merupakan salah satu unsur utama dalam pembentukan dan perubahan ruang.
Perubahan jumlah penduduk, persebaran, kepadatan, struktur umur, mobilitas, aktivitas ekonomi, kebutuhan pelayanan, serta kondisi sosial masyarakat memiliki hubungan langsung dengan kebutuhan ruang dan perkembangan wilayah.
Karena itu, data kependudukan dan sosial dalam TARUBALI tidak hanya ditempatkan sebagai statistik, tetapi sebagai data dasar untuk memahami dinamika ruang dan masyarakat Bali.
Halaman ini mendokumentasikan data kependudukan dan sosial berdasarkan:
Wilayah → Penduduk → Struktur → Persebaran → Mobilitas → Kondisi Sosial → Kebutuhan Ruang → Analisis Tata Ruang
Data disajikan dengan memperhatikan sumber, periode, unit analisis, skala, metadata, dan status pemutakhiran.
01. Penduduk Provinsi Bali
Berdasarkan data yang dirujuk dalam Kepmendagri Nomor 300.2.2-2430 Tahun 2025, jumlah penduduk Provinsi Bali tercatat:
4.375.263 Jiwa
Data tersebut bersumber dari Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri, berdasarkan Data Kependudukan Semester II Bulan Desember Tahun 2024.
Angka tersebut digunakan dalam halaman ini sebagai data rujukan administratif, bukan sebagai pengganti seluruh seri data kependudukan yang digunakan untuk analisis RTRW.
Untuk analisis perencanaan ruang, data kependudukan perlu dibaca bersama data BPS, data administrasi, data spasial, serta sumber sektoral lain sesuai tujuan analisis.
02. Penduduk Kabupaten/Kota
Data Kependudukan Provinsi Bali
| No. | Kabupaten/Kota | Kode | Jumlah Penduduk (Jiwa) | Periode | Sumber |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Jembrana | 51.01 | 330.221 | Semester II 2024 | Ditjen Dukcapil Kemendagri |
| 2 | Tabanan | 51.02 | 478.363 | Semester II 2024 | Ditjen Dukcapil Kemendagri |
| 3 | Badung | 51.03 | 537.739 | Semester II 2024 | Ditjen Dukcapil Kemendagri |
| 4 | Gianyar | 51.04 | 504.845 | Semester II 2024 | Ditjen Dukcapil Kemendagri |
| 5 | Klungkung | 51.05 | 223.723 | Semester II 2024 | Ditjen Dukcapil Kemendagri |
| 6 | Bangli | 51.06 | 200.526 | Semester II 2024 | Ditjen Dukcapil Kemendagri |
| 7 | Karangasem | 51.07 | 538.390 | Semester II 2024 | Ditjen Dukcapil Kemendagri |
| 8 | Buleleng | 51.08 | 828.156 | Semester II 2024 | Ditjen Dukcapil Kemendagri |
| 9 | Denpasar | 51.71 | 673.270 | Semester II 2024 | Ditjen Dukcapil Kemendagri |
| Â | Provinsi Bali | 51 | 4.375.263 | Semester II 2024 | Ditjen Dukcapil Kemendagri |
Sumber: Data Kependudukan Semester II Bulan Desember Tahun 2024, Ditjen Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri, sebagaimana dirujuk dalam Kepmendagri Nomor 300.2.2-2430 Tahun 2025.
Catatan: data penduduk menurut Dukcapil dan data penduduk menurut BPS dapat memiliki perbedaan karena sumber, konsep, cakupan, dan metode pengumpulan yang berbeda. Untuk setiap analisis, sumber data harus disebutkan secara eksplisit.
03. Jumlah dan Pertumbuhan Penduduk
Pertumbuhan penduduk merupakan salah satu indikator penting dalam memahami dinamika wilayah.
Dokumentasi time series sekurang-kurangnya mencakup:
| Indikator | Satuan | Periode | Sumber |
|---|---|---|---|
| Jumlah penduduk | Jiwa | Tahunan/Semesteran | BPS/Dukcapil |
| Pertumbuhan penduduk | % | Tahunan | BPS/hasil analisis |
| Laju pertumbuhan penduduk | % per tahun | Periode tertentu | BPS |
| Penduduk laki-laki | Jiwa | Tahunan | BPS/Dukcapil |
| Penduduk perempuan | Jiwa | Tahunan | BPS/Dukcapil |
| Rasio jenis kelamin | Rasio | Tahunan | BPS |
| Penduduk perkotaan | Jiwa/% | Tahunan | BPS |
| Penduduk perdesaan | Jiwa/% | Tahunan | BPS |
Data time series digunakan untuk membaca arah dan kecepatan perubahan penduduk, bukan hanya kondisi pada satu tahun.
04. Persebaran Penduduk
Penduduk Provinsi Bali tidak tersebar secara merata.
Karena itu, analisis kependudukan perlu memperhatikan:
- jumlah penduduk;
- luas wilayah;
- kepadatan penduduk;
- pusat-pusat permukiman;
- kawasan perkotaan;
- kawasan perdesaan;
- koridor pertumbuhan;
- pusat kegiatan;
- kawasan pariwisata;
- kawasan pesisir;
- kawasan pegunungan; dan
- keterhubungan antarwilayah.
Persebaran penduduk merupakan salah satu informasi penting untuk memahami struktur ruang dan pola perkembangan wilayah.
05. Kepadatan Penduduk
Kepadatan penduduk merupakan hubungan antara jumlah penduduk dengan luas wilayah.
Secara sederhana:
Kepadatan Penduduk = Jumlah Penduduk / Luas Wilayah
Satuan yang digunakan dapat berupa:
jiwa/km²
Namun, interpretasi kepadatan perlu memperhatikan karakter wilayah. Kepadatan administratif tidak selalu sama dengan kepadatan kawasan terbangun.
Karena itu, TARUBALI dapat mengembangkan analisis:
Kepadatan Administratif → Kepadatan Terbangun → Kepadatan Fungsional → Tekanan Ruang
06. Struktur Umur Penduduk
Struktur umur memberikan gambaran mengenai komposisi penduduk menurut kelompok usia.
Kelompok analisis dapat mencakup:
- 0–4 tahun;
- 5–9 tahun;
- 10–14 tahun;
- 15–19 tahun;
- 20–24 tahun;
- 25–29 tahun;
- 30–34 tahun;
- 35–39 tahun;
- 40–44 tahun;
- 45–49 tahun;
- 50–54 tahun;
- 55–59 tahun;
- 60–64 tahun;
- 65 tahun ke atas.
Data struktur umur dapat digunakan untuk membaca kebutuhan:
- pendidikan;
- kesehatan;
- perumahan;
- lapangan kerja;
- ruang publik;
- fasilitas sosial;
- transportasi; dan
- pelayanan dasar.
07. Penduduk Menurut Jenis Kelamin
Komposisi penduduk menurut jenis kelamin merupakan bagian dari profil demografi.
Data yang perlu didokumentasikan meliputi:
| Indikator | Satuan |
|---|---|
| Penduduk laki-laki | Jiwa |
| Penduduk perempuan | Jiwa |
| Rasio jenis kelamin | Rasio |
| Persentase laki-laki | % |
| Persentase perempuan | % |
Data ini dapat digunakan bersama struktur umur untuk membentuk profil demografi wilayah.
08. Mobilitas dan Migrasi Penduduk
Bali merupakan wilayah dengan mobilitas penduduk yang tinggi dan memiliki hubungan kuat antara penduduk tetap, penduduk pendatang, aktivitas ekonomi, pariwisata, pendidikan, dan kesempatan kerja.
Dokumentasi mobilitas dapat mencakup:
- migrasi masuk;
- migrasi keluar;
- migrasi neto;
- penduduk datang;
- penduduk pindah;
- komuter;
- mobilitas pekerja;
- mobilitas pelajar;
- mobilitas terkait pariwisata; dan
- pola mobilitas antarkabupaten/kota.
Data mobilitas penting karena jumlah penduduk administratif pada suatu wilayah tidak selalu menggambarkan jumlah orang yang menggunakan ruang pada waktu tertentu.
09. Rumah Tangga dan Keluarga
Data rumah tangga merupakan salah satu basis untuk memperkirakan kebutuhan ruang permukiman.
Indikator yang dapat didokumentasikan:
- jumlah rumah tangga;
- rata-rata anggota rumah tangga;
- jumlah keluarga;
- pertumbuhan rumah tangga;
- status kepemilikan rumah;
- kondisi tempat tinggal;
- luas hunian;
- akses air minum;
- sanitasi; dan
- karakteristik permukiman.
Hubungan antara jumlah penduduk → jumlah rumah tangga → kebutuhan hunian → kebutuhan lahan menjadi salah satu rangkaian analisis penting dalam perencanaan ruang.
10. Pendidikan
Data pendidikan menggambarkan karakteristik sosial dan kualitas sumber daya manusia.
Indikator yang dapat didokumentasikan antara lain:
- angka partisipasi sekolah;
- angka partisipasi kasar;
- angka partisipasi murni;
- rata-rata lama sekolah;
- harapan lama sekolah;
- tingkat pendidikan tertinggi;
- penduduk menurut jenjang pendidikan;
- jumlah sekolah;
- jumlah peserta didik;
- jumlah tenaga pendidik; dan
- persebaran fasilitas pendidikan.
Data pendidikan dapat digunakan untuk menganalisis kebutuhan dan distribusi fasilitas pelayanan sosial.
11. Ketenagakerjaan
Penduduk dan kegiatan ekonomi memiliki hubungan erat dengan struktur ruang.
Data ketenagakerjaan yang perlu didokumentasikan meliputi:
- angkatan kerja;
- bukan angkatan kerja;
- tingkat partisipasi angkatan kerja;
- penduduk bekerja;
- pengangguran;
- tingkat pengangguran terbuka;
- lapangan pekerjaan utama;
- status pekerjaan;
- sektor pekerjaan; dan
- distribusi tenaga kerja menurut wilayah.
Analisis ini membantu memahami hubungan antara:
Penduduk → Tenaga Kerja → Kegiatan Ekonomi → Lokasi Kegiatan → Kebutuhan Ruang
12. Kemiskinan dan Kesejahteraan Sosial
Kondisi sosial ekonomi masyarakat merupakan salah satu dimensi penting dalam perencanaan wilayah.
Data yang dapat didokumentasikan antara lain:
- jumlah penduduk miskin;
- persentase penduduk miskin;
- garis kemiskinan;
- indeks kedalaman kemiskinan;
- indeks keparahan kemiskinan;
- tingkat kesejahteraan;
- penerima bantuan sosial;
- keluarga rentan; dan
- indikator sosial lainnya.
Data ini perlu dibaca sebagai indikator sosial, bukan semata-mata sebagai indikator spasial.
Dalam konteks tata ruang, informasi tersebut dapat digunakan untuk mempertimbangkan akses masyarakat terhadap:
- perumahan;
- pelayanan dasar;
- transportasi;
- pendidikan;
- kesehatan;
- pekerjaan; dan
- ruang publik.
13. Perumahan dan Permukiman
Pertumbuhan penduduk berpengaruh terhadap kebutuhan perumahan dan permukiman.
Data yang perlu dikembangkan meliputi:
| Kelompok | Data |
|---|---|
| Rumah | Jumlah rumah |
| Hunian | Jumlah rumah tangga |
| Kepadatan | Kepadatan hunian |
| Kualitas | Kondisi rumah |
| Air | Akses air minum |
| Sanitasi | Akses sanitasi |
| Permukiman | Persebaran kawasan permukiman |
| Rumah tidak layak | Jumlah dan lokasi |
| Permukiman kumuh | Luas dan lokasi |
Data sosial dan data spasial perlu diintegrasikan untuk melihat di mana kebutuhan pelayanan berada dan bagaimana perkembangannya.
14. Kesehatan
Data kesehatan merupakan bagian dari informasi sosial wilayah.
Indikator yang dapat didokumentasikan meliputi:
- jumlah fasilitas kesehatan;
- rumah sakit;
- puskesmas;
- klinik;
- tenaga kesehatan;
- angka harapan hidup;
- angka kematian;
- kondisi kesehatan masyarakat;
- prevalensi penyakit tertentu sesuai data resmi; dan
- akses masyarakat terhadap fasilitas kesehatan.
Dalam penataan ruang, data tersebut dapat digunakan untuk menganalisis jangkauan dan pemerataan pelayanan kesehatan.
15. Kelompok Rentan dan Inklusivitas Ruang
Perencanaan ruang perlu memperhatikan kebutuhan seluruh kelompok masyarakat.
Data yang relevan dapat mencakup:
- anak;
- lanjut usia;
- penyandang disabilitas;
- rumah tangga berpenghasilan rendah;
- kelompok yang memiliki keterbatasan akses terhadap pelayanan dasar; dan
- kelompok sosial lain sesuai data resmi.
Pendekatan tersebut mendukung pengembangan ruang yang aman, mudah diakses, inklusif, dan berkeadilan secara spasial.
16. Sosial Budaya Masyarakat
Bali memiliki karakter sosial dan budaya yang membentuk pola kehidupan serta penggunaan ruang.
Data sosial budaya dapat mencakup:
- struktur komunitas;
- desa adat;
- banjar;
- pura dan tempat suci;
- kawasan yang memiliki nilai budaya;
- kegiatan sosial masyarakat;
- tradisi dan praktik budaya yang berkaitan dengan ruang;
- ruang publik komunitas; dan
- warisan budaya.
Data tersebut perlu ditempatkan secara hati-hati sesuai kewenangan dan sumber resmi, serta dibedakan antara data sosial budaya dan ketentuan hukum tata ruang.
17. Penduduk dan Struktur Ruang
Perubahan penduduk dapat memengaruhi struktur ruang melalui perkembangan:
PendudukÂ
↓Â
Kebutuhan HunianÂ
↓Â
Kebutuhan PelayananÂ
↓Â
Kebutuhan TransportasiÂ
↓Â
Perkembangan Kegiatan EkonomiÂ
↓Â
Perubahan Penggunaan LahanÂ
↓Â
Perubahan Struktur dan Pola Ruang
Hubungan tersebut tidak bersifat otomatis. Perubahan ruang juga dipengaruhi oleh kebijakan, investasi, infrastruktur, kondisi fisik, lingkungan, ekonomi, dan faktor sosial budaya.
18. Penduduk dan Kebutuhan Ruang
Dalam analisis RTRW, data penduduk dapat digunakan untuk memperkirakan kebutuhan ruang untuk:
- permukiman;
- fasilitas pendidikan;
- fasilitas kesehatan;
- fasilitas sosial;
- perdagangan dan jasa;
- transportasi;
- ruang terbuka;
- infrastruktur;
- kawasan ekonomi; dan
- pelayanan publik lainnya.
Analisis kebutuhan ruang perlu menggunakan proyeksi penduduk dan asumsi perencanaan yang terdokumentasi, bukan sekadar memperpanjang tren historis secara mekanis.
19. Proyeksi Penduduk
Proyeksi penduduk merupakan instrumen untuk melihat kemungkinan kebutuhan ruang pada masa depan.
Untuk RTRW Bali 2028–2048, proyeksi dapat disusun dengan beberapa skenario sesuai metodologi yang ditetapkan.
Secara konseptual:
Penduduk DasarÂ
→ Asumsi PertumbuhanÂ
→ Proyeksi PendudukÂ
→ Proyeksi Rumah TanggaÂ
→ Proyeksi Kebutuhan PelayananÂ
→ Proyeksi Kebutuhan Ruang
Setiap proyeksi harus mencantumkan:
- tahun dasar;
- periode proyeksi;
- metode;
- asumsi;
- sumber data;
- parameter;
- skenario; dan
- batasan analisis.
Catatan metodologis: BPS telah menyediakan proyeksi penduduk Bali berdasarkan LF SP2020. Tabel resmi BPS menjelaskan bahwa data 2020 berasal dari SP2020 dan proyeksi 2021–2026 menggunakan LF SP2020.
20. Data Time Series Kependudukan
TARUBALI perlu membangun seri data kependudukan jangka panjang untuk mendukung analisis RTRW.
Struktur Time Series
| Kelompok Data | Periode Ideal | Sumber |
|---|---|---|
| Jumlah penduduk | Tahunan/Semesteran | BPS/Dukcapil |
| Pertumbuhan | Tahunan | BPS |
| Struktur umur | Tahunan | BPS/Dukcapil |
| Jenis kelamin | Tahunan | BPS/Dukcapil |
| Kepadatan | Tahunan | BPS/analisis |
| Migrasi | Tahunan | BPS/Dukcapil |
| Rumah tangga | Tahunan | BPS |
| Pendidikan | Tahunan | BPS/sektoral |
| Ketenagakerjaan | Tahunan | BPS |
| Kemiskinan | Tahunan | BPS |
| Kesehatan | Tahunan | BPS/sektoral |
| Perumahan | Berkala | BPS/sektoral |
Time series menjadi dasar untuk membedakan:
kondisi → tren → perubahan → tekanan → kebutuhan → proyeksi.
21. Tabulasi Komprehensif Data Kependudukan dan Sosial
| Level | Rumpun Data | Komponen Data | Unit | Status Dokumentasi |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Demografi | Jumlah penduduk | Jiwa | Terdokumentasi |
| 1 | Demografi | Pertumbuhan penduduk | % | Perlu Pemutakhiran |
| 1 | Demografi | Kepadatan | Jiwa/km² | Perlu Analisis |
| 1 | Demografi | Struktur umur | Jiwa/% | Perlu Dokumentasi |
| 1 | Demografi | Jenis kelamin | Jiwa/% | Perlu Dokumentasi |
| 2 | Mobilitas | Migrasi | Jiwa | Perlu Dokumentasi |
| 2 | Rumah Tangga | Jumlah rumah tangga | RT | Perlu Dokumentasi |
| 2 | Pendidikan | Partisipasi pendidikan | % | Perlu Dokumentasi |
| 2 | Pendidikan | Rata-rata lama sekolah | Tahun | Perlu Dokumentasi |
| 3 | Ketenagakerjaan | Angkatan kerja | Jiwa | Perlu Dokumentasi |
| 3 | Ketenagakerjaan | Pengangguran | Jiwa/% | Perlu Dokumentasi |
| 3 | Sosial Ekonomi | Kemiskinan | Jiwa/% | Perlu Dokumentasi |
| 3 | Perumahan | Kondisi hunian | Unit/% | Perlu Dokumentasi |
| 3 | Kesehatan | Fasilitas dan indikator kesehatan | Unit/% | Perlu Dokumentasi |
| 4 | Sosial Budaya | Desa adat/banjar dan elemen sosial budaya | Unit | Perlu Integrasi |
| 4 | Kelompok Rentan | Lansia, anak, disabilitas, dan kelompok rentan | Jiwa/% | Perlu Dokumentasi |
| 5 | Spasial | Persebaran penduduk | Grid/administrasi | Perlu Analisis |
| 5 | Spasial | Kepadatan penduduk | Jiwa/km² | Perlu Analisis |
| 6 | Proyeksi | Proyeksi penduduk | Jiwa | Dikembangkan |
| 6 | Proyeksi | Proyeksi rumah tangga | RT | Dikembangkan |
| 6 | Analisis | Kebutuhan ruang | Ha/unit | Dikembangkan |
22. Data Kependudukan Berbasis Wilayah
Data kependudukan perlu dapat ditelusuri berdasarkan struktur wilayah:
ProvinsiÂ
↓Â
Kabupaten/KotaÂ
↓Â
KecamatanÂ
↓Â
Desa/KelurahanÂ
↓Â
Lokasi/Grid Spasial
Pendekatan tersebut memungkinkan analisis kependudukan dilakukan secara lebih detail dan dapat dihubungkan dengan data fisik serta data tata ruang.
23. Data Penduduk dan GIS
Dalam GISTARUBALI, data kependudukan dapat dikembangkan menjadi beberapa bentuk visualisasi:
- peta jumlah penduduk;
- peta kepadatan;
- peta pertumbuhan;
- peta struktur umur;
- peta persebaran rumah tangga;
- peta akses fasilitas;
- peta sosial ekonomi; dan
- peta kebutuhan pelayanan.
Integrasi tersebut memungkinkan pengguna berpindah dari:
Tabel → Peta → Analisis
24. Metadata Data Kependudukan dan Sosial
Setiap dataset perlu memiliki metadata minimal:
| Metadata | Keterangan |
|---|---|
| Nama dataset | Nama indikator |
| Sumber | BPS/Dukcapil/sektoral |
| Periode | Tahun/semester |
| Wilayah | Provinsi/kabupaten/kecamatan/desa |
| Unit | Jiwa/%/RT/dll. |
| Metode | Metode pengumpulan/perhitungan |
| Skala | Skala spasial bila tersedia |
| Status | Aktif/historis/verifikasi |
| Tanggal pembaruan | Last update |
| Tautan sumber | Link menuju data/publikasi resmi |
| Metadata | Link menuju definisi/metodologi |
| Catatan | Batasan dan definisi |
Metadata menjadi penting karena angka yang sama dapat memiliki makna berbeda apabila konsep dan sumber datanya berbeda.
25. Sumber Data dan Akses Resmi
TARUBALI mengutamakan sumber data resmi dan dapat ditelusuri.
25.1 Badan Pusat Statistik Provinsi Bali
Sumber utama untuk:
- jumlah penduduk;
- pertumbuhan penduduk;
- kepadatan;
- rasio jenis kelamin;
- struktur umur;
- pendidikan;
- ketenagakerjaan;
- kemiskinan;
- kesehatan;
- IPM;
- indikator sosial ekonomi; dan
- publikasi statistik tahunan.
Jenis akses:
VIEW PUBLIKASI → Provinsi Bali Dalam AngkaÂ
VIEW DATA → Tabel Statistik BPSÂ
VIEW METADATA → Metadata indikator/kegiatan statistik
25.2 Sensus Penduduk dan Proyeksi Penduduk
Data SP2020 dan LF SP2020 digunakan sebagai salah satu basis utama untuk memahami perkembangan penduduk dan proyeksi.
Jenis akses:
VIEW DATA → Tabel Penduduk BPSÂ
VIEW PROYEKSI → Proyeksi Penduduk Provinsi BaliÂ
VIEW STRUKTUR UMUR → Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis KelaminÂ
VIEW METADATA → SIRUSA BPS
25.3 Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil
Digunakan untuk data administrasi kependudukan dan pencatatan sipil.
Jenis akses:
VIEW DATA ADMINDUK → Data Kependudukan Ditjen DukcapilÂ
VIEW DATA SEMESTER → Data Kependudukan SemesteranÂ
VIEW REFERENSI → Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan
25.4 Pemerintah Provinsi Bali
Data sektoral Pemerintah Provinsi Bali dapat digunakan untuk melengkapi data BPS dan Dukcapil sesuai kewenangan perangkat daerah.
Data dapat meliputi:
- pendidikan;
- kesehatan;
- sosial;
- perumahan;
- permukiman;
- ketenagakerjaan;
- kependudukan;
- desa/adat;
- infrastruktur; dan
- pelayanan publik.
Jenis akses:
VIEW DATA → Portal Data Pemerintah Provinsi BaliÂ
VIEW DATA SEKTORAL → Perangkat daerah/walidata terkait
25.5 SIRUSA BPS — Metadata Statistik
SIRUSA digunakan untuk memahami:
- konsep;
- definisi;
- variabel;
- metodologi;
- cara pengumpulan;
- penyelenggara kegiatan;
- periode kegiatan; dan
- karakteristik statistik.
VIEW METADATA merupakan bagian penting dari setiap proses validasi data.
26. Matriks Akses Sumber Data
No. | Sumber | Jenis Data | Akses | Fungsi |
|---|---|---|---|---|
| 1 | BPS Provinsi Bali | Statistik wilayah | VIEW PUBLIKASI | Referensi utama |
| 2 | BPS Tabel Statistik | Data indikator | VIEW DATA | Data terstruktur |
| 3 | BPS SP2020/LF SP2020 | Penduduk | VIEW DATA | Basis demografi |
| 4 | BPS Proyeksi Penduduk | Proyeksi | VIEW PROYEKSI | Analisis masa depan |
| 5 | SIRUSA BPS | Metadata | VIEW METADATA | Validasi definisi/metode |
| 6 | Ditjen Dukcapil | Adminduk | VIEW DATA | Data administratif |
| 7 | Pemerintah Provinsi Bali | Data sektoral | VIEW DATA | Pelengkap sektoral |
| 8 | Kabupaten/Kota | Data lokal | VIEW DATA | Detail kewilayahan |
| 9 | Data geospasial resmi | Data spasial | VIEW DATA | Integrasi GIS |
| 10 | K/L terkait | Data sektoral | VIEW DATA | Pelengkap analisis |
27. Prinsip Link dan Keterlacakan Data
Setiap dataset yang ditampilkan dalam TARUBALI idealnya memiliki:
Nama DataÂ
→ Tahun DataÂ
→ SumberÂ
→ View DataÂ
→ DownloadÂ
→ View MetadataÂ
→ Tanggal AksesÂ
→ Status Data
Dengan demikian, pengguna dapat mengetahui dari mana angka berasal, kapan data diterbitkan, apa definisinya, dan bagaimana data tersebut digunakan.
Prinsip ini mendukung:
Data Traceability → Data Transparency → Data Accountability
28. Penduduk sebagai Subjek Penataan Ruang
Penataan ruang pada akhirnya bukan hanya mengenai pembagian ruang menjadi zona atau kawasan.
Ruang digunakan oleh manusia untuk:
Bertempat Tinggal → Bekerja → Belajar → Beribadah → Bergerak → Berinteraksi → Berbudaya → Berkarya
Karena itu, penduduk perlu ditempatkan sebagai subjek sekaligus salah satu pengguna utama ruang.
Data kependudukan dan sosial memberikan dasar empiris agar perencanaan ruang dapat mempertimbangkan dinamika masyarakat secara lebih terukur.
29. Dari Data Penduduk Menuju Pengetahuan Ruang
Kerangka dokumentasi TARUBALI:
DATA PENDUDUKÂ
↓Â
PERSEBARANÂ
↓Â
STRUKTURÂ
↓Â
MOBILITASÂ
↓Â
KEBUTUHAN PELAYANANÂ
↓Â
TEKANAN RUANGÂ
↓Â
ANALISISÂ
↓Â
PROYEKSIÂ
↓Â
RENCANA TATA RUANG
Dengan demikian, data kependudukan tidak berhenti sebagai angka statistik, tetapi menjadi bagian dari basis pengetahuan kewilayahan Bali.