Arah Orientasi Ruang Wilayah

Arah orientasi ruang dalam skala wilayah yang lebih luas dan berkeseimbangan secara keseluruhan dalam Provinsi Bali, dengan konsep arah orientasi yang berdasarkan mata angin (pengider-ider) yang bersifat universal, dan yang berdasarkan konsep segara-gunung yang bersifat lokal.

Sumbu ritual timur-barat (surya sewana) berorientasi ke arah matahari terbit dan terbenamnya matahari, dimana orientasi timur tempat matahari terbit lebih utama dari barat. Sumbu yang kedua adalah konsep sumbu natural spiritual kaja-kelod yang dikaitkan dengan arah orientasi kepada gunung dan lautan (nyegara gunung, segara-wukir), luan-teben, sekala-niskala, suci-tidak suci, dan sebagainya.

Segala sesuatu yang dikategorikan bersifat suci dan bernilai sakral akan menempati letak di bagian kaja (utara) mengarah ke gunung seperti : letak pura, arah sembahyang, arah tidur dan sebagainya. Sebaliknya, segala sesuatu yang dikategorikan kurang suci dan bernilai profan, akan menempati letak di bagian kelod (selatan), seperti : letak kuburan, letak kandang, tempat pembuangan sampah/kotoran, dan sebagainya bagi mereka yang tinggal di bagian Bali Selatan. Demikian pula sebaliknya bagi mereka yang tinggal di Bali Utara, kaja berarti selatan dan kelod berarti utara.

Perbedaan ini tidak saja terbatas pada penunjukkan arah, tetapi juga dalam beberapa aspek kehidupan. Pada bagian tengah Pulau Bali dari timur ke barat terbentang pegunungan/perbukitan dengan puncak-puncaknya antara lain : Gunung Agung, Gunung Batur, Gunung Batukaru, yang menurut konsep di atas merupakan arah orientasi sumbu natural spiritual yang utama dari aktivitas kehidupan masyarakat Bali.

Manifestasi atau kekuatan-kekuatan Tuhan (Siwa) dalam mata angin (pengider-ider) yang mengambil posisi dik-widik, mendasari konsep dewata nawa sanga dan dan dijabarkan lagi menjadi konsep eka dasa rudra. Konsep ini, disamping mendasari sumbu yang bersifat universal juga mendasari pola ruang sanga mandala. Sedangkan posisi gunung-laut, disamping mendasari sumbu linier kaja-kelod, juga mendasari pola ruang tri mandala.

Dari dasar pola ruang tri mandala, dapat dijabarkan juga menjadi pola ruang sanga mandala dengan memasukkan faktor terbit matahari sebagai orientasi nilai utama sebagai pembagi masing-masing mandala dalam tri mandala menjadi tiga bagian. Pola sanga mandala yang lain didasarkan atas konsep, pangider-ider/dewata nawa sanga. Dalam pola sanga mandala jenis ini maka mandala di tengah (madyaning madya) menjadi paling utama dan menjadi pusat orientasi.